Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Cerah berawan, 28.6 ° C

Sektor Otomotif Alami Kontraksi Sepanjang 2019

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI industri otomotif.*/REUTERS
ILUSTRASI industri otomotif.*/REUTERS

DENPASAR, (PR).- Perlambatan ekonomi global berdampak besar pada kinerja pertumbuhan perdagangan beberapa sektor di Indonesia. Salah satu yang paling terdampak adalah pertumbuhan sektor otomotif yang diprediksi akan mengalami kontraksi hingga -10% pada tahun ini. 

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan, pertumbuhan sektor otomotif hingga pertengahan tahun 2019 sudah mengalami kontraksi hingga -11%. "Kami prediksi hingga akhir tahun mengalami kontraksi hingga -10 %," ujar dia saat Pelatihan Wartawan Bank Indonesia di Denpasar, Jumat, 27 September 2019.

Dia mengatakan, kinerja sektor otomotif sangat berhubungan erat dengan kondisi ekspor komoditas. Untuk kendaraan komersil, kinerjanya sangat tergantung pada kinerja perdagangan batu bara. Sementara, pertumbuhan kendaraan penumpang sangat bergantung pada kondisi ekspor CPO. 

"Jadi, ketika perdagangan batu bara dan CPO turun, maka berbanding lurus dengan kinerja otomotif yang ikut menurun," ujarnya. 

Kinerja pertumbuhan yang landai juga terjadi pada kendaraan roda dua yaitu sekitar 4,4%. Hal itu bisa disebabkan karena rumah tangga sudah banyak yang memiliki kendaraan roda dua sehingga ruang gerak pertumbuhannya semakin sempit.

"Selain itu, saat ini masyarakat juga sudah banyak yang menggunakan transportasi online sehingga mengurangi penggunaan motor," katanya. 

Meskipun demikian, Andry mengatakan, beberapa sektor masih memiliki pertumbuhan yang tinggi. Misalnya, sektor properti rumah yang tumbuh 20% namun untuk rumah dengan harga di bawah Rp1 miliar.

FOTO ilustrasi kredit perumahan rakyat.*/ANTARA

BI memprediksi pertumbuhan ekonomi 2019 tidak lebih dari 5,2%

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko, mengatakan, tren pertumbuhan ekonomi global cenderung mengalami penurunan. Hal ini menghambat pertumbuhan perdagangan dunia.

Dia mengatakan, kondisi perlambatan global memiliki dampak yang sangat besar bagi Indonesia. Sebab, Indonesia masih mengandalkan produk komoditi yang sangat sensitif pada pertumbuhan ekonomi dunia. 

"Jadi, kita terkena dampak ganda. Selain kuantitasnya mengalami penurunan,  juga terjadi penurunan harga komoditas," ujar Onny.

Dikatakannya, penurunan volume dagang tersebut direspon bank sentral berbagai negara untuk menurunkan suku bunga acuannya. Suku bunga yang tetap hanya Malaysia dan Tiongkok.

Meskipun demikkan, menurunnya pertumbuhan dan volume perdagangan dunia dapat menyebabkan likuiditas meningkat. Hal ini menyebabkan aliran modal ke negara berkembang masuk. "Meskipun ini sifatnya folitile tergantung yield masing-masing negara," imbuhnya.

Melihat prospek perkembangan saat ini, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi 2019 tidak lebih dari 5,2 persen. Sementara, kredit perbankan tumbuh 10-12%.

Menurut Onny, tantangan ekonomi domestik juga ada pada defisit transaksi berjalan yang saat ini sudah hampir mencapai 3%. "Kita lakukan upaya bersama agar target defisit perdagangan di bawah tiga persen bisa terjaga," ujarnya.***

Bagikan: