Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 20.4 ° C

BI Turunkan Uang Muka Kendaraan Bermotor

Tia Dwitiani Komalasari

ILUSTRASI logo Bank Indonesia.*
ILUSTRASI logo Bank Indonesia.*

JAKARTA,  (PR).- Langkah Bank Indonesia (BI) menurunkan uang muka kendaraan bermotor dinilai bisa meningkatkan daya beli masyarakat.  Meskipun kebijakan uang muka ini belum tentu tercatat pada komponen konsumsi rumah tangga hingga akhir tahun. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memgatakan kebijakan relaksasi makroprudensial Bank Indonesia sangat dibutuhkan di tengah perlambatan ekonomi global. Hal itu memperbesar ketidakpastian global yang berdampak besar bagi perekonomian nasional. 

"Itu sebabnya perlu ada kemudahan fasilitas supaya daya belinya naik," ujar Darmin di Jakarta, Jumat 20 September 2019.

Dia mengatakan,  saat ini kinerja penjualan kendaraan bermotor cenderung turun. Sementara kinerja perdagangan internasional hanya tumbuh 2,5 % di tahun 2019. Angka tersebut terendah setekah krisis 10 tahun lalu. 

Seperti diketahui sebelumnya Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan menurunkan uang muka kredit pembiayaan properti menjadi 5%. Selain itu BI juga menurunkan uang muka kendaraan bermotor antara 5-10%. Sementara uang muka kendaraan bermotor yang berwawasan lingkungan sebesar 5%.

Tidak mengalami resesi

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan,  ketentuan uang muka tersebut berlaku mulai 2 Desember 2019. "Kami juga terus memperkuat kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi," katanya. 

Meskipun perlambatan ekonomi dunia mengalami mengalami perpanjangan, Perry menegaskan bahwa arah pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mengalami resesi. Menurut dia, definisi resesi adalah jika ekonomi suatu negara mengalami pertumbuhan negatif dua triwulan berturut turut. 

Perry mengatakan,  Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 berkisar 5,1 % . Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 dipredikasi berada di kisaran 5,2%. Itu berarti,  pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif dan tidak tergolong dalam definisi resesi. 

Pertumbuhan ekonomi global juga diperkirakan masih tumbuh positif meskipun mengalami perlambatan. Sebelumnya BI memprediksi jika pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,2 % pada 2019. Meskipun demikian,  eskalasi ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok menyebabkan pertumbuhan ekonomi global diprediksi lebih rendah dari perkiraan.

Menurut Perry,  sebelumnya hubungan perdagangan antar kedua megara tersebut diperkirakan akan membaik.  Namun ketegangan malah semakin meningkat dengan menaikan tarif masuk di kedua negara.  Tidak hanya itu,  jenis barang yang dikenakan tarif masuk pun semakin bertambah. 

Tidak negatif

Kondisi ini menyebabkan perdagangan global menurun yang berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi global.  "Namun meskipun melambat, pertumbuhannya tidak negatif, jadi tidak terjadi resesi ekonomi secara global. Namun memang di beberapa negara lain diperkirakan ada yang mengalami resesi," ucapnya. 

Perlambatan ekonomi global juga didorong oleh kondisi geopolitik di beberapa negara. Selain menekan perekonomian dunia,  hal ini juga membuat ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi. 

Menurut Perry,  pertumbuhan ekonomi Indonesia turut terpengaruh kondisi perekonomian global yang kurang menguntungkam tersebut.  Ekspor diperkirakan belum membaik seiring permintaan global dan harga komoditas yang menurun kecuali beberapa produk manufaktur seperti kendaraan bermotor. 

"Kondisi ini berdampak pada belum kuatnya pertumbuhan investasi khususnya non bangunan.  Konsumsi swasta tumbuh terbatas,  meskipun konsumsi rumah tangga tumbuh stabil karena didukung oleh penyaluran bantuan sosial pemerintah," jelasnya. 

Perry mengatakann,  keputusan BI untuk kembali menurunkan suki bunga merupakan langkah preemptive untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah perlambatan global. Selain itu,  kebijakan tersebut juga didukung inflasi rendah dan imbal hasil investasi aset keuangan domestik yang tetap menarik.***
 

Bagikan: