Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Laju Pertumbuhan Ekonomi Jabar 2019 Tidak akan Lebih Baik dari 2018

Yulistyne Kasumaningrum
ILUSTRASI pertumbuhan ekonomi Jawa Barat melambat.*/DOK. PR
ILUSTRASI pertumbuhan ekonomi Jawa Barat melambat.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada 2019 diperkirakan tidak akan lebih baik dibandingkan capaian 2018 lalu. Pertumbuhan ekonomi Jabar pada tahun ini diperkirakan dikisaran 5,5 persen atau sedikit dibawah capaian 2018 yang tercatat 5,64 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Doni P. Joewono menjelaskan kondisi tersebut tidak lepas dari tekanan yang tengah dihadapi industri manufaktur akibat kondisi global. Jabar yang 42 persen ekonominya digerakkan oleh sektor manufaktur dan sebagian besar berorientasi ekspor tentu akan sangat terpengaruh. Ketika pasar negara tujuan ekspor Jabar permintaannya menurun maka kinerja ekspor Jabar pun akan menukik kebawah.

Disisi lain, saat industri manufaktur yang menjadi tulang punggung tertekan, konsumsi pemerintah yang mestinya dapat diandalkan untuk mengompensasi melambatnya sektor manufaktur justru ikut melempem. Dikatakan, serapan Anggaran Pendapatan dan Belanjada Daerah (APBD) Jabar saat ini baru dikisaran 30 persen. Bahkan, penyerapan APBD di 27 kabupaten/kota pun tidak lebih baik dari angka tersebut.

“Minimalnya untuk bisa lebih dari 5,5 persen ya realisasinya harus mencapai 95 persen. Tapi apa mungkin tercapai dalam 3 bulan? Bisa mencapai 85 persen saja diakhir tahun sudah bagus sekali,” ujar Doni yang ditemui disela Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Beasiswa Bank Indonesia dan BI Mengajar di Universitas Islam Bandung, Rabu, 18 September 2019. Kegiatan dihadiri langsung Rektor Unisba Prof Dr H Edi Setiadi., SH., MH.

Doni menambahkan, meski belanja pemerintah hanya sekian persen dalam perekonomian Jabar, namun realisasi konsumsi pemerintah itu sangat berperan dalam mendorong perekonomian. Pasalnya, konsumsi pemerintah akan menjadi trigger bagi bergeraknya roda perekonomian.

“Belanja pemerintah itu larinya ke proyek strategis. Ketika ada proyek maka misalnya akan mendorong swasta untuk mengajukan kredit, sehingga akan mendorong konsumsi. Artinya multiplier efeknya dari realisasi APBD itu berbeda ke masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, melihat berbagai perkembangan yang terjadi di dunia, Doni mengatakan ada tiga hal yang harus dilakukan Jabar agar tetap dapat menjaga pertumbuhan ekonominya. Ketiga hal tersebut adalah selain memacu penyerapan anggaran, juga menarik investasi serta menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru, dalam hal ini sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Untuk investasi ini, bulan depan kami akan menyelenggarakan West Incoorporated Summit dimana akan diundang investor dari berbagai negara untuk melihat potensi yang dimiliki Jabar, ini yang akan bisa mendorong,” kata Doni.

Sedangkan untuk penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi baru, Doni mengatakan, dari sisi potensi sektor pariwisata Jabar sangat besar. Hanya ada persoalan lain yang harus menjadi komitmen bersama untuk diselesaikan. Misalnya terkait kesadaran masyarakat Jabar akan pariwisata yang dinilai belum baik. Hal itu diantaranya tercermin dari tingginya biaya yang harus dikeluarkan saat bus pariwisata mendatangi satu objek wisata.

“Juga termasuk tiker yang mahal. Ini yang membuat pelaku industri agak sedikit gamang meski mereka siap untuk mendukung agar pertumbuhan ekonomi Jabar mencapai angka yang sama seperti tahun lalu,” katanya.***

Bagikan: