Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 16.3 ° C

Sejak 2018, 229 Domain Pialang Berjangka Ilegal Ditutup Bappebti

Ai Rika Rachmawati
null
null

BANDUNG, (PR).- Sejak 2018 Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) sudah menutup sedikitnya 229 domain pialang berjangka ilegal. Sebayak 161 domain ditutup pada tahun lalu dan 68 domain ditutup awal tahun ini.

Demikian diungkapkan Direktur Utama PT. Kliring Berjangka Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi, saat berkunjung ke Kantor Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika, Bandung, Jumat, 13 September 2019. Selain Fajar, pada kesempatan tersebut turut berkunjung Direktur Utama PT. Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), Stephanus Paulus Lumintang dan Pimpinan PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Bandung, Anthony Martanu. "Penutupan dilakukan untuk menertibkan pialang ilegal yang izin usahanya tidak terdaftar di Bappebti," ujarnya.

Menurut dia, saat ini pialang berjangka legal yang sudah terdaftar di Bappebti dan PT Kliring Berjangka Indonesia adalah 54 dan pedagang berjumlah 18. Dengan demikian, total ada 72 pelaku usaha. "Jumlahnya mungkin berbeda karena ada yang belum terdaftar di kami, tapi terdaftar di BBJ atau terdaftar di Bappebti tapi terdaftar di bursa yang satu lagi," ujarnya.

Akan tetapi, menurut dia, secara umum jumlah yang pialang berjangka legal yang terdaftar di Bappebti lebih sedikit dari jumlah pialang eksisting. Jumlah pialang berjangka ilegal jauh lebih banyak.

Untuk mengetahui legalitas pialang berjangka, menurut dia, masyarakat bisa mengeceknya langsung di website Bappebti. Sementara untuk pialang berjangka anggota BBJ dan PT Kliring Berjangka Indonesia bisa dicek melalui website kedua perusahaan tersebut.

"Maraknya pialang berjangka ilegal memang menimbulkan potensi kerugian yang besar. Apalagi, masyarakat banyak yang belum teredukasi tentang bursa komoditas. Akan tetapi, sejauh ini belum ada estimasi besaran potensi kerugian yang bisa kami rilis," ujar Fajar.

Maraknya pialang berjangka ilegal, menurut dia, terjadi karena besarnya potensi pasar bursa komoditas. Apalagi, hingga saat ini belum ada pialang berjangka ilegal yang dipidanakan. "Padahal, berdasarkan ketentuan perundang-undangan, mereka bisa dipidana dengan hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 10 tahun," tutur Fajar.

Agar masyarakat terhindar dari pialang berjangka ilegal, menurut dia, selain melakukan pengecekan legalitas pialang, yang paling mudah adalah mengecek nama belakang mereka. Pialang berjangka legal, menurut dia, biasanya menggunakan nama future berjangka di belakangnya. "Selain itu, jika ada satu pialang berjangka yang menjanjikan keuntungan pasti sebesar 6-10 persen dalam dua pekan, bisa dipastikan bahwa pialang itu fake, ilegal," tuturnya.

Ia tidak menampik kemungkinan bahwa nasabah bisa mendapat keuntungan lebih dari 10 persen. Akan tetapi, itu adalah potensi keuntungan, bukan keuntungan pasti yang akan diperoleh nasabah.

Pertumbuhan tinggi

Sementara itu, Anthony mengatakan, minat masyarakat untuk berinvestasi terus meningkat. Salah satu indikatornya adalah pertumbuhan nasabah PT Rifan Financindo Berjangka yang mencapai lebih dari 36 persen. Volume transaksi mereka juga tumbuh di atas 46 persen. "Untuk cabang kami, sebagian besar nasabah, 76,8 persen, berasal dari Kota Bandung dan sisanya outer Bandung," tutur Anthony.

Stephanus mengatakan, secara nasional Kota Bandung berada pada peringkat keenam dalam daftar nasabah pialang berjangka terbesar di Indonesia. Posisi pertama masih ditempati Jakarta. "Secara keseluruhan jumlah nasabah seluruh pialang yang terdaftar di BBJ ada 150.000," tuturnya, seraya menjelaskan bahwa definisi komoditas adalah segala barang dan jasa yang bisa diperdagangkan.***

Bagikan: