Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 16.3 ° C

Masyarakat Jadi Faktor Penentu Keberhasilan Pengembangan Ekowisata

Catur Ratna Wulandari
GEOPARK Ciletuh-Palabuhanratu.*/DOK. PR
GEOPARK Ciletuh-Palabuhanratu.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Masyarakat setempat menjadi faktor penentu keberhasilan pengembangan ekowisata. Selain menjadi penggerak utama, masyarakat setempat harus merasakan manfaat pengembangan ekowisata ini.  

Desa Wisata Cibuntu di Kabupaten Kuningan merupakan salah satu contoh pengembangan desa wisata yang menjadikan masyarakat sebagai penggerak utamanya. Kepala Desa Cibuntu Awam Hamara mengatakan, belajar dari pengembangan ekowisata dari Desa Cibuntu Kabupaten Kuningan dan Geopark Ciletuh, Kabupaten Sukabumi, masyarakat harus menjadi kekuatan sentral dalam pengembangannya.

Awan Hamara mengatakan, berbagai bentuk kolaborasi tak akan berhasil jika masyarakat setempat tak memahami konsep Sapta Pesona, yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan kenangan. "Begitu ada preman, mati desa wisata itu," katanya saat berbicara di Focus Group Discussion (FGD) Educational and Community Needs Assessment for Integrated in Indonesia Ecotourism Management (INTEM) di Gedung LMFE Universitas Padjadjaran, Jalan Hayam Wuruk, Kota Bandung, Jumat, 13 September 2019.

Ia mengatakan, pemberdayaan masyarakat menjadi hal penting yang menjadi kunci keberhasilan Desa Wisata Cibuntu. Warga diajak untuk memahami apa yang akan dicapai lewat desa wisata ini. Dengan begitu, masyarakat mau diajak untuk bergerak bersama. "Jadi mereka tahu jangan sampai ada wisatawan yang mendapat pengalaman buruk," katanya.

Selain itu, ia berpendapat, perlu kepemimpinan yang kuat pula. Ia menjelaskan, Desa Cibuntu sendiri semula ialah galian pasir yang berhasil ditutup dan kemudian dikembangkan sebagai wisata oleh masyarakat setempat. Kepemimpinan yang kuat perlu untuk menjaga kesinambungan desa wisata yang terbentuk sejak 2012. "Kami tidak terima investor dari luar. Tanah juga tidak boleh dijual ke orang luar," katanya.

Asep Supriatna dari Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi (PAPSI) yang mengembangkan Geopark Ciletuh menyebutkan, pariwisata di sana telah mengentaskan Ciletuh dari desa tertinggal menjadi desa maju. Masyarakat setempat mulai mengembangkan homestay, usaha kuliner, juga menjadi pemandu wisata di obyek wisata yang telah diakui sebagai Geopark dunia oleh UNESCO. Tingkat kunjungannya sendiri saat ini mencapai 32.000 orang per bulan.

"Meski pesantren sempat ketakutan Ciletuh akan seperti Bali," ujarnya.

Ia berharap, ada keterlibatan mahasiswa lewat KKN untuk membantu masyarakat setempat mengembangkan potensi desanya, "Memang terlihat sudah bagus, tapi di lapangan kami masih keteteran padahal 2021 evaluasi oleh UNESCO," katanya.

Ketua Program Studi Manajemen Resort & Leisure UPI Galih Kusumah mengatakan, keberhasilan desa wisata ditentukan oleh aktornya, yaitu masyarakat itu sendiri. "Sehebat-hebatnya pendamping, tidak akan maju kalau aktornya tidak," ujarnya.

Terbukti dari pengalamannya mendampingi di Kabupaten Bandung, dari 10 desa wisata hanya satu yang berhasil. Keberhasilan yang dimaksud ialah masyarakat setempat bisa menikmati manfaat ekonomi dari pengembangan desa wisata itu.

Kurniawan Saefullah, pengajar Manajemen Bisnis FEB Unpad mengatakan, INTEM merupakan konsorsium yang terdiri dari tiga perguruan tinggi yaitu Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Trisakti School of Tourism bekerja sama dengan Martha Tilaar Foundation dan The Indonesian Heritage Society untuk melakukan peningkatan kapasitas sehingga ekowisata bisa memberi manfaat bagi masyarakat. "Hasil FGD ini selanjutnya untuk merumuskan kalau membuat course atau program studi bidang ekowisata, topik, materi, dan pendekatan yang digunakan ini seperti apa," tuturnya.

Program tersebut dirancang untuk tingkat master. Harapannya, program itu bisa mempengaruhi pemangku kebijakan, juga praktisi untuk membuat kebijakan yang pro masyarakat.***

Bagikan: