Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 16.3 ° C

Dengar Ibu Kota Indonesia Akan Pindah, Rusia Berminat Bangun Kereta Api di Kalimantan

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI kereta api.*/DOK. PR
ILUSTRASI kereta api.*/DOK. PR

JAKARTA,  (PR).- Indonesia dan Rusia sepakat untuk memperat kerja sama dua negara baik di bidang perdagangan maupun investasi. Rusia juga menyatakan minatnya untuk terlibat dalam proyek pembangunan kereta api di Kalimantan. Hal tersebut terkait rencana pemindahan ibu kota Indonesia ke Kalimantan, dan Rusia tertarik untuk turut membantu pembangunan infrastruktur di pulau tersebut.

Menteri Perdagangan Emggartiasto Lukita mengatakan, pemerintah Indonesia terus mengupayakan peningkatan hubungan perdagangan bilateral dengan meminimalisasi hambatan perdagangan dan investasi dengan negara mitra. Dengan meminimalisasi hambatan, maka kemudahan akses pasar akan semakin meningkat. 

“Kita setuju menaikkan hubungan bilateral perdagangan dan investasi dengan Rusia. Indonesia dan Rusia sepakat untuk mengidentifikasi hal-hal yang selama ini menghambat kerja sama kedua negara,” ujar Enggar dalam siaran pers, Jumat 13 September 2019. 

Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita telah mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia Maksim Oreshkin dan Deputi United States Trade Representative (USTR) Jeff Gerrish di sela-sela Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN (AEM) ke-51 di Bangkok, Thailand.

Menurut Enggar, Rusia meminta dukungan Kementerian Perdagangan dalam proyek kereta api di Kalimantan. Terkait hal tersebut, dirinya berkomitmen akan berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait di Indonesia. "Rusia memang menyatakan minatnya pada potensi investasi pembangunan infrastruktur pemindahan ibu kota Indonesia," ujar Enggar. 

Pajak minyak sawit

Sementara itu, pihak Indonesia menaruh perhatian pada keputusan Parlemen Rusia yang menaikkan pajak minyak sawit, dari 10 persen menjadi 20 persen. Menurut Enggar,  Rusia menekankan, kenaikan pajak minyak sawit tersebut adalah tindakan penyesuaian tarif dan bukan proteksi. Rusia tidak memproduksi minyak sawit sehingga tetap membutuhkan asupan minyak sawit Indonesia. 

"Untuk itu, Rusia menyatakan akan menghitung dampak kenaikan pajak tersebut pada serapan konsumsi Rusia," ujarnya. 

Dalam pertemuan tersebut, kedua menteri juga sepakat menindaklanjuti rencana imbal dagang pengadaan pesawat tempur Sukhoi Su-35 bagi Indonesia. Selain itu Indonesia juga meminta Rusia selaku negara dengan ekonomi terbesar di Eurasian Economic Union untuk mendukung insiatif pembentukan perjanjian 
perdagangan antara Indonesia dan Eurasian Economic Union.

“Potensi perdagangan kita dengan Rusia cukup besar, untuk itu kami mendorong agar hambatan perdagangan kedua negara dapat diatasi dan hubungan ekonomi dapat ditingkatkan melalui rencana pembentukan perjanjian perdagangan dengan Eurasian Economic Union. Hal ini mengingat Rusia adalah bagian dari Eurasian Economic Union dan merupakan ekonomi terbesar di situ.” kata Enggar.***

Bagikan: