Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 22.6 ° C

Tekstil Tiongkok Penuhi Pasar, Produk Lokal Menumpuk di Gudang

Tim Pikiran Rakyat
PENGUSAHA tekstil lokal kini hanya bisa menumpuk hasil produksi di gudang.*/ENGKOS KOSASIH/GALAMEDIA
PENGUSAHA tekstil lokal kini hanya bisa menumpuk hasil produksi di gudang.*/ENGKOS KOSASIH/GALAMEDIA

SOREANG, (PR).- Sejumlah pelaku usaha industri tekstil di Kabupaten Bandung, khususnya di Kecamatan Majalaya, Ibun, Paseh dan Solokanjeruk mulai merasakan imbas masuknya barang-barang impor dari negara Tiongkok ke Indonesia. 

"Belakangan ini, perusahaan kami mulai lesu. Pasalnya, mengalami kesulitan dalam pemasaran produksi. Saat ini produksi dibiarkan menumpuk di gudang dalam beberapa bulan terakhir ini," keluh salah seorang perwakilan pengusaha industri tekstil Prawira di Majalaya, Rabu 4 September 2019.

Menurut Prawira, produksi kain tekstil dibiarkan menumpuk di gudang karena sulit bersaing di pasaran. "Jika kita mencontohkan produksi tekstil yang ada di kita dengan barang-barang impor sangat jauh berbeda, khususnya dalam harga pasar. Misalnya, bahan baku tekstil kita beli Rp 9.000 per satuan, sementara barang-barang impor dengan harga yang sama sudah menjadi barang jadi dan siap pakai. Kita, dengan harga pembelian bahan baku Rp 9.000 per satuan, misalnya ketika sudah jadi pakaian dipasarkan dengan harga Rp 22.000. Maka, terjadi perbedaan yang sangat mencolok antara barang-barang yang dihasilkan di kita dengan produk impor," papar Prawira.

Mengahadapi kondisi riil pada sektor perindustrian tersebut, imbuh Prawira, ia sebagai pelaku usaha mulai kebingungan untuk mempertahankan usahanya. 

"Makanya, salah satu solusi untuk mempertahankan usahanya, pemerintah diminta untuk membatasi produk impor. Jangan sampai produk impor kian tidak terkendali. Dampaknya, ya pengusaha pribumi merasakan usahanya semakin lesu, setelah kran impor produk luar membanjiri pasaran dalam negeri," katanya.

Prawira mengatakan, sebagai mitra pengusaha yang sebelumnya penerima produk tekstil yang dihasilkan para pengusaha dalam negeri, diinformasikan lebih memilih produk impor. "Memang alasannya masuk akal, harga produk impor lebih murah dua kali lipat dari produk dalam negeri," ujarnya.

Efisiensi

Untuk menghadapi kelesuan usaha di bidang produk tekstil, Prawira berusaha untuk melakukan efisiensi. Di antaranya, mengurangi waktu kerja harian. 
"Semula, para karyawan kerja dari mulai Senin-Sabtu, kini dikurangi sehari, menjadi Senin-Jumat. Pengurangan waktu kerja itu, untuk mengurangi penumpukan produksi di gudang karena barang tidak banyak keluar dan pemasarannya pun tidak seimbang dengan produksi yang dihasilkan," ucapnya.

Bahkan setelah dirinya berkoordinasi dengan pengusaha tekstil lainnya, kata Prawira, selain mengurangi waktu juga, ada yang sudah merumahkan karyawannya. Bahkan ada yang sudah mem-PHK (pemutusan hubungan kerja) karyawannya karena sudah tak sanggup memberikan upah setelah mengalami kelesuan. 

"Itu sebagai salah satu langkah untuk mempertahankan usahanya, melalui efisiensi waktu dan pengurangan tenaga kerja," tuturnya kepada wartawan Galamedia, Engkos Kosasih

Ia mepengatakan, jika perkembangan tekstil terus mengalami kelesuan dan sulit bangkit, banyak di antara pengusaha yang khawatir gulung tikar. Ketika terjadi gulung tikar, semua karyawan di PHK sehingga akan berimbas pada dampak sosial masyarakat, yaitu bertambahnya pengangguran. 

"Kami berharap kepada pemerintah, untuk membantu pemasaran produk tekstil. Supaya, usaha kami ada jalan keluar dalam mengimbangi pemasaran produk impor di dalam negeri," katanya. 

Apalagi saat ini, lanjut Prawira, para pengusaha bakal dibebani dengan adanya rencana iuran kepesertaan Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) akan dinaikkan. "Artinya, pengusaha yang saat ini kondisi usahanya lagi lesu, harus menambah iuran kepesertaan BPJS para karyawannya. Selain itu, para pengusaha harus membayar pajak dan proses perizinan lainnya. Ini yang akan memberatkan kami dalam menjalankan usaha," pungkasnya.***
 

Bagikan: