Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya berawan, 29.6 ° C

Produk Usaha Pesantren Harus Dipasarkan Online

Ai Rika Rachmawati
null
null

BANDUNG, (PR).- Pesantren yang menjalankan lini bisnis harus mahir memanfaatkan skema pemasaran online. Hal itu penting mengingat seluruh aspek kehidupan masyarakat saat ini sudah terjamah digitalisasi.

Demikian diungkapkan Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil (Emil), pada Temu Bisnis One Pesantren One Product (OPOP) dan Simbolis Bantuan Penguatan Modal Usaha Pondok Pesantren di The Trans Luxury Hotel, Jln. Gatot Subroto, Bandung, Selasa, 3 September 2019. Selain itu, jangkauan pemasaran online juga sangat luas, tanpa ada sekat ruang dan waktu.

"Semua sekarang tidak ada yang tidak online. Membeli barang, online. Membeli tiket, online. Semua online," ujarnya.

Pemasaran online, menurut dia, diperlukan agar pesantren yang berwirausaha bisa berdaya saing, bukan hanya di ranah lokal, tapi juga global. Apalagi, saat ini struktur konsumen nasional didominasi generasi milenial yang umumnya melek digital.

Berdasarkan riset firma konsultan bisnis IPSOS, sebanyak 64 persen netizen milenial berbelanja secara online. Sebanyak 43 persen generasi milenial berbelanja online sebulan sekali.

Hasil survei Sharing Vision pada 2017-2019 menunjukkan, saat ini sudah terjadi pergeseran untuk kegiatan belanja kebutuhan sehari-hari, penggunaan transportasi, dan pemesanan tiket, hotel dll. Bahkan, untuk booking tiket pesawat, pergeserannya sudah mencapai 90 persen.

Berdasarkan hasil survei tersebut, konsumen beralih membeli barang melalui media sosial disebabkan harga lebih murah. Media sosial menjadi pilihan karena barang lebih beragam dan lebih mudah, sedangkan marketplace karena alasan banyaknya promo.

Laporan Google-Temasek menyebutkan, akselerasi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia merupakan yang terdepan di Asia Tenggara. Perputaran uang dari aktivitas ekonomi digital sepanjang 2018 diprediksi mencapai Rp 27 miliar dollar Amerika Serikat (AS).

Laju pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia pun kian meningkat. Pada 2015 Indonesia memiliki 18 juta konsumen belanja secara online dan diprediksi akan terus tumbuh hingga 119 juta pada 2020.  

OPOP

Emil mengatakan, program OPOP merupakan realisasi janji kampanye Emil -Uu pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) beberapa waktu lalu. Target yang ia sasar adalah kebangkitan ekonomi umat di tanah Pasundan. "Jabar sangat besar. Jangan sampai potensi ekonomi Jabar hanya dikuasasi kaum kapitalalis. Ekonomi umat harus bangkit melalui simpul-simpul pondok pesantren," ujar Emil.

Ia menargerkan, ke depan pesantren bukan hanya bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi, pesantren bisa menjadi pusat pergerakan dan pertumbuhan ekonomi Jabar. "Sebetulnya banyak pesantren yang mau membuka usaha. Akan tetapi, mereka bingung, produknya apa? Caranya bagaimana? Modalnya dari mana? Serta pemasarannya seperti apa?"

Oleh karena itu, menurut dia, Pemerintah Provinsi (Pempov) Jabar menghadirkan OPOP, sebagai solusi persoalan tersebut. Program OPOP bukan hanya mendorong pesantren untuk memiliki lini usaha, tapi juga memfasilitasi permodalan hingga membuka jalur pemasaran.***

Bagikan: