Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya cerah, 22.7 ° C

Sektor Manufaktur Indonesia Perluas Pasar ke Australia

Tia Dwitiani Komalasari
Mobil Listrik.*/SATRIO WIDIANTO/PR
Mobil Listrik.*/SATRIO WIDIANTO/PR

JAKARTA, (PR).- Menteri Perindustrian memproyeksikan sejumlah sektor manufaktur di Indonesia akan lebih agresif memperluas pasarnya ke Australia. Hal ini seiring implementasi perjanjian kerja sama yang saling menguntungkan melalui Indonesia Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

“Misalnya, dalam sektor otomotif, karena Australia tidak lagi memiliki industri otomotif, Indonesia akan berpeluang mengekspor produk otomotifnya ke pasar Australia dalam kerangka IA-CEPA tersebut. Apalagi, Indonesia akan menjadi basis produksi dan hub di ASEAN,” tuturnya di Jakarta, Minggu 25 Agustus 2019.

Dia mengatakan, pengembangan sektor industri otomotif di Indonesia menuju lompatan yang jauh. Hal itu juga telah diwujudkan melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan. Dengan adanya perpres tersebut, para pelaku industri otomotif di Indonesia segera merancang dan membangun pengembangan mobil listrik.

Dalam perpres itu, dia mengatakan, akan diatur mengenai pengoptimalan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Sebab, TKDN masuk dalam persyarata IA CEPA.

"Untuk kendaraan beroda empat atau lebih misalnya, TKDN minimun 35% sampai tahun 2021, dan di tahun 2030 bisa sebesar 80%. Hal ini juga memungkinkan upaya ekspor otomotif nasional ke Australia. Karena dalam skema kerja sama IA-CEPA, ada persyaratan 40% TKDN, sehingga kami sinkronkan dengan fasilitas yang ada,” ujarnya.

Di samping itu, menurut Airlangga, pemerintah sedang memfinalisasi revisi Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

“Dalam skema PPnBM yang baru, akan ditambahkan parameter penghitungan konsumsi bahan bakar dan emisi CO2. Ini juga untuk menyesuaikan minat pasar global, sehingga kita bisa mendorong produksi kendaraan seperti sedan, termasuk untuk mengisi ke pasar Australia,” tutur dia.

Menurut Airlangga, sektor lainnya yang juga akan berpeluang memembus ke pasar Negeri Kanguru, yaitu industri tekstil, pakaian, alas kaki, serta makanan dan minuman. Bahkan, termasuk di antaranya sektor industri biokimia dan biofarmasi.

“Di sektor elektronika juga akan tumbuh, dan berpeluang ke pasar ekspor. Saat ini, populasi pengguna smartphone di Indonesia mencapai 60 juta orang. Kemenperin bersama kementerian terkait lainnya sedang membuat aturan untuk mengontrol penerapan IMEI. Ini menjadi salah satu persyaratan untuk mendukung industri smartphone di dalam negeri,” ujarnya.

Dia menambahkan, pemerintah telah menyiapkan strategi industri melalui implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. Aspirasi besarnya adalah menjadikan Indonesia masuk jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030. ***

Bagikan: