Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Disediakan 350 Kesempatan Magang ke Taiwan bagi Generasi Milenial

Kodar Solihat
KEPALA Pusat Pelatihan Pertanian BBSDMP Kementan Bustanul Arifin, melepas 54 orang keberangkatan pertama magang pertanian di Taiwan, yang dilakukan di BBPP Lembang, Jumat 23 Agustus 2019.*/KODAR SOLIHAT/PR
KEPALA Pusat Pelatihan Pertanian BBSDMP Kementan Bustanul Arifin, melepas 54 orang keberangkatan pertama magang pertanian di Taiwan, yang dilakukan di BBPP Lembang, Jumat 23 Agustus 2019.*/KODAR SOLIHAT/PR

BANDUNG, (PR).- Sebanyak 350-an tempat disediakan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) bagi kalangan petani muda di Indonesia, untuk diberangkatkan magang ke negara Taiwan. 

Pemagangan tersebut, merupakan salah satu upaya memunculkan kekuatan baru agribisnis hortikultura dan padi di Indonesia berintikan generasi milenial yang berdaya saing produk dan usaha yang menjanjikan menghadapi era 4.0.

Pemagangan tersebut sudah diawali melalui pemberangkatan pertama 54 orang petani milenial dari Indonesia angkatan pertama , yang dilakukan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Jumat 23 Agustus 2019. 

Mereka yang diberangkatkan ke Taiwan tersebut merupakan petani berumur 19 tahun s.d 35 tahun dari kalangan pelajar dan petani, dimana sebanyak 17 orang diantara yang diberangkatkan tersebut berasal dari Jawa Barat, sebagian lagi dari Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tenggara. 

Antusiasme dari kalangan petani muda mengikuti magang di Taiwan tersebut terlontar dari sejumlah pemuda tani milenial. Mereka berharap memperoleh banyak sesuatu yang baru untuk dapat dikembangkan sekembalinya ke daerah masing-masing.

Pelepasan tahap pertama magang ke Taiwan tersebut, dilakukan Kepala Pusat Pelatihan Pertanian BBSDMP Kementan Bustanul Arifin, dan Kepala BBPP Lembang, Kemal Mahfud. Mereka yang magang di Taiwan akan selama dua pekan, akan menerima materi sebanyak 112 jam pelajaran diantaranya GAP tanaman pangan, GAP hortikultura, GAP Peternakan, mekanisasi pertanian, penumbuhan kelembagaan petani, pengelolaan finansial, akses sumber pembiayaan, membuat rancangan pengembangan usaha, dll. 

Menurut Bustanul Arifin, secara bertahap secara total akan berjumlah 350-an peserta magang yang diberangkat ke Taiwan. Mereka diseleksi dari kalangan petani muda, yang memang sangat bermotivasi memajukan usaha pertanian.  

“Mengapa yang dipilih ke Taiwan, karena negara itu diketahui merupakan penghasil hortikultura, terutama sayuran dan tanaman hias yang dikenal berkualitas tinggi dan banyak inovasinya. Akan banyak yang dapat dikembangkan sepulangnya ke daerah masing-masing, sehingga diharapkan mereka mampu menjadi agen perubahan ke arah perekonomian yang baik pada masing-masing  desanya,” ujar Kemal Mahfud. 

Menurut dia, mereka yang magang tersebut bukan hanya memperoleh pelatihan dan pengetahuan seputar agribisnis dan teknik pertanian, juga memperoleh uang gaji Rp 7 s.d 8 juta. Namun ini hanya merupakan pemacu, karena yang terpenting adalah memperoleh ilmu yang bermanfaat untuk dikembangkan demi kemajuan usaha para petani muda itu dan masa depan pertanian Indonesia. 

Salah seorang peserta magang, Siti Aisyah asal Majalengka yang merupakan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan-Sekolah Pertanian Menengah Atas (SMK-SPMA) Tanjungsari Sumedang, mengatakan, antusias mengikuti magang di Taiwan itu. Apalagi, dirinya juga merupakan petani muda tanaman padi di daerahnya, yang mengurus sawah 1 hektare milik orang tuanya.

“Saya tertarik dengan pelatihan mekanisasi maupun inovasi pertanian lainnya, mudah-mudahan akan banyak seuatu yang sangat bermanfaat untuk dikembangkan sepulangnya nanti. Apalagi bagi masyarakat yang masih memiliki sawah, merupakan sesuatu yang sangat berharga mempertahankannya demi kelangsungan pangan keluarga dan keturunan ke depan,” ujarnya.***
 

Bagikan: