Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sebagian berawan, 20.8 ° C

Serat Bambu, Solusi Alternatif Bahan Baku Kertas

Yulistyne Kasumaningrum
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

BANDUNG, (PR).- Pemerintah terus menggenjot penelitian bahan baku alternatif pembuatan kertas di tanah air. Strategi tersebut selain untuk menekan impor, meningkatkan diversifikasi produk, juga sebagai alternatif pemecahan masalah industri kertas terkait energi dan lingkungan.

Plt Kepala Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) Budi Susanto mengatakan sejak beberapa waktu terakhir pihaknya melakukan penelitian produk serat bambu. Hasil penelitian menunjukan serat bambu dapat digunakan sebagai bahan baku serat rayon untuk tekstil dan sebagai penguat yang efektif untuk komposit yang lebih ringan, ramah lingkungan (biodegradable).

“Selain itu, kelebihan lain dari serat bambu adalah sumbernya yang melimpah dan tidak diharuskan mengikuti skema Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK)," ujarnya di Bandung, belum lama ini.

Ia menambahkan pemanfaatan limbah serat untuk energi atau yang dikenal sebagai Refused Paper Plastic Fuel (RPF) merupakan penelitian yang sangat aplikatif di industri kertas. Hasil penelitian ini pun dapat digunakan sebagai solusi alternatif di bidang energi dan lingkungan.

Dijelaskan, hasil penelitian menunjukan nilai kalori dari RPF Iebih tinggi dibandingkan batubara. Penggunaan RPF juga dapat mencegah terbentuknya Slagging dan Fouling yang dapat menimbulkan masalah pada Boiler.

“Subtitusi batubara dengan 10% penggunaan RPF dapat menurunkan Gas Rumah Kaca (GRK) sampai 9%. Pemanfaatan limbah serat untuk Energi yang dapat menjadi alternatif pemecahan masalah di
industri kertas untuk bidang energi dan lingkungan,” katanya.

Lebih lanjut Budi mengatakan, ditingkat global Indonesia merupakan salah satu pemain utama di Industri kertas. Indonesia termasuk dalam 10 besar produsen pulp dan 6 besar produsen kertas di dunia. Sedangkan di Asia Indonesia termasuk dalam 3 besar produsen pulp dan 4 besar produsen kertas.

Industri ini pun memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Hal itu di antaranya dapat dilihat dari pertumbuhan industri kertas dan barang dari kertas termasuk dalam salah satu sektor industri pengolahan non migas yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada triwulan I-2019.

Namun, disisi lain industri tersebut juga menghadapi sejumlah tantangan dan hambatan yang dikhawatirkan dapat memengaruhi daya sain dari produk kertas tanah air. Oleh karena itu sejak
beberapa waktu terakhir, Kementrian Perindustrian melalui BPPK terus menggenjot sejumlah penelitian terutama bagi industri pulp, kertas , derivat selulosa dan industri pendukung Iainnya.

Selain penelitian produk serat bambu, pihaknya juga tengah mengembangkan pembuatan kertas berbahan baku tandan kosong sawit dengan memanfaatkan limbah perkebunan sawit. Limbah
perkebunan sawit yang mencapai 30 juta ton per tahun pada awalnya banyak menimbulkan masalah karena menimbulkan bau tak sedap dan terbentuknya gas.

“Melalui penelitian ini TKS dljadikan sumber serat alternatif dan dikombinasikan dengan serat yang berasal darl kemasan aseptik bekas menghasilkan kertas medium dan kertas liner yang memenuhi standar spesifikasi yang ditetapkan,” katanya.

Adapun sejumlah penelitian lainnya adalah daur ulang kemasan aseptic dan peningkatan mutu kertas kemas baja. Penelitian daur ulang kemasan aseptik dikatakan Budi adalah untuk memecahkan
permasalahan kesulitan bahan baku pembuatan kertas dan tingginya impor kertas daur ulang.

Indonesia masih memerlukan bahan baku impor kertas daur ulang sebesar 4-4,5 juta ton tiap tahunnya sebagai bahan baku pembuatan kertas kemasan kotak karton gelombang (KKG).
Hasil penelitian menunjukkan kemasan aseptik minuman bekas yang asalnya tidak memiliki daya jual, ternyata dapat dijadikan salah satu sumber bahan baku pembuatan kertas. Dari proses daur ulang yang dilakukan ada dua produk yang dihasilkan yakni serat sekunder dan polyfoil, dengan rendemen serat antara 30%-35%.

“Hasil penelitian menunjukkan serat yang berasal dari kemasan aseptic minuman bekas menghasilkan kualitas yang setara dengan serat yang berasal dari pulp kayu. Sedangkan hasil
perhitungan biaya jasa daur ulang kemasan aseptik minuman bekas ini antara Rp. 3500-Rp.3800 per kilogram (tidak termasuk biaya pengadaan bahan baku)” ujarnya.

Terkait dengan penelitian peningkatan mutu kertas kemas baja, Budi mengatakan hal itu meerupakan pengembangan penelitian kertas kemas baja yang telah diteliti sejak 2001 lalu.
Hasil percobaan skala Iaboratorium dilanjutkan dengan skala pilot untuk melihat kinerja kertas kemas yang dibuat pada uji coba lapangan.

“Hasil penelitian menunjukan penambahan bahan aditif dapat
meningkatkan kualitas kertas kemas baja,” ujarnya.***

Bagikan: