Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.8 ° C

OJK: Fintech Dapat Kurangi Kesenjangan Pembiayaan UMKM

Tia Dwitiani Komalasari
FINTECH.*/Ist
FINTECH.*/Ist

JAKARTA, (PR).- Data Bank Dunia menunjukan bahwa jumlah dana yang masih dibutuhkan untuk pembiayaan Usaha Kecil Menengah dan Mikro (UMKM) di Indonesia mencapai 165 miliar dolar AS. Hal itu menjadi peluang bagi pelaku industri keuangan termasuk fintech untuk masuk dan memperkecil financing gap tersebut.

"Jumlah UMKM di Indonesia sangat besar, lebih dari 60 juta. Di sisi lain, Indonesia masih memiliki financing gap untuk UMKM senilai 165 miliar dolar AS," ujar Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital, Sukarela Batunanggar, kepada "PR" di Jakarta, Selasa, 20 Agustus 2019.

Menurut Sukarela, kondisi ini menunjukan bahwa kue pembangunan yang harus dilayani industri keuangan masih sangat besar. Oleh karena itu, perbankan tidak bisa berdiri sendirian dalam memberikan layanan keuangan tersebut.

Dia mengatakan, industri fintech berkembang sangat pesat sejak tiga tahun yang lalu. Di satu sisi, perkembangan fintech menimbulkan kompetisi bagi lembaga keuangan lain seperti perbankan. Namun di sisi lain, kehadiran fintech dapat mengisi layanan nasabah yang selama ini tidak terjamah oleh perbankan.

Menurut Sukarela, perkembangan fintech sangat memengaruhi perkembangan industri perbankan secara keseluruhan. Salah satunya adalah memacu perbankan untuk melakukan transformasi layanan dari konvensional ke arah digital.

"Akibatnya, layanan berbasis kantor berkurang. Ini ditunjukkan oleh penurunan jumlah kantor cabang atau jumlah nasabah yang melakukan transaksi di kantor layanan perbankan sudah berkurang," ujarnya.

null

Model kerja sama yang bisa terjadi antara perbankan dan fintech

Sukarela mengatakan, OJK mendorong adanya kolaborasi antara fintech, perbankan, dan asuransi. Menurut dia, terdapat tiga bentuk kerja sama antara fintech dan perbankan.

Kerja sama model pertama yaitu perbankan melakukan investasi di beberapa perusahaan fintech yang bagus. Sementara, kerja sama ke dua yaitu perbankan berkolaborasi dengan fintech sebagai pemberi dana pinjaman. 

"Di sini bank mendapatkan manfaat untuk meningkatkan volume usaha dengan UMKM. Sementara fintech mendapatkan keuntungan karena ada dana dari perbankan," ujarnya.

Ketua Komisi Kerja IT Perbanas, Muhamad Guntur , mengatakan, perbankan menyambut positif pertumbuhan industri fintech di Indonesia. Saat ini, cakupan layanan perbankan di Indonesia baru mencapai 60-70 juta nasabah.

"Jadi fintech bukan pesaing. Perbankan perlu rangkul fintech untuk mencapai target inklusi keuangan. Di samping itu, fintech juga mempermudah dan mempermurah akses buat masyarakat tanpa harus ke Bank, ATM atau EDC. Ini menambah opsi kenyamanan masyarakat," ujarnya.

Guntur tidak memungkiri jika keberadaan fintech memengaruhi pendapatan dasar perbankan. "Namun secara penempatan dana atau penyaluran kredit, saya rasa perbankan masih lebih unggul karena faktor regulasi dan risiko tinggi yang membatasi perkembangan Fintech," ujarnya.***

Bagikan: