Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 22.6 ° C

Kerugian Ekonomi Akibat Hoax Sangat Besar

Ai Rika Rachmawati
Hoaks.*/DOK. PR
Hoaks.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Hoax bukan hanya menyesatkan, tapi juga berpotensi merugikan secara ekonomi. Bahkan, kerugian ekonomi yang timbul akibat hoax bisa sangat besar, belum termasuk kerugian nonmateriil.

Demikian diungkapkan Chief Digital Startup, Ecommerce & Fintech (DEF) Sharing Vision yang juga Co Chief Executive Officer (Co-CEO) Bandung Initiative Movement (BIM), Nur Islami Javad (Jeff), di Bandung, Selasa, 20 Agustus 2019. Hoax, menurut dia, bisa membuat klien dan calon klien menjauh.

"Hoax juga bisa membuat konsumen lari dan pada gilirannya akan menekan angka penjualan dan omzet usaha," ujarnya.

Dampak yang paling besar, menurut dia, akan terjadi pada perusahaan yang melantai di bursa. Hoax berpotensi menghilangkan kepercayaan pasar dan pada gilirannya akan menekan harga saham. "Bagi dunia usaha, kepercayaan itu sangat penting dan dampaknya akan sangat luas, khususnya untuk pemasaran," ujar Jeff.

Menurut dia, sebetulnya saat ini tingkat bahaya hoax sudah melandai, seiring dengan mulai teredukasinya sebagian masyarakat. Hoax mencapai puncak kejayaannya pada 2014. "Untuk menangkal hoax, masyarakat sebaiknya membiasakan menahan jempol sejenak, lalu membaca apa yang akan kita share," ujarnya.

Sementara dari sisi pemerintah selaku regulator, menurut dia, harus terus melakukan sosialisasi bagi masyarakat terkait bahaya hoax. Masyarakat juga harus terus diingatkan tentang pentingnya menyaring informasi yang datang sebelum kembali di share. "Ingat bahwa hoax menjadi berbahaya setelah disebarluaskan," tuturnya.

Kaum wanita rentan terjebak hoax

Sementara itu, pada edukasi digital "Arisan Ilmu" yang digelar PT XL Axiata, Tbk. akhir pekan lalu, Marketing Development Sisternet, Adelia Theresa Panjaitan, mengatakan, wanita adalah segmen masyarakat yang rentan dengan hoax. Umumnya, wanita lebih sering menyebarluaskan informasi yang mereka nilai memiliki judul menarik, tanpa membaca atau melalukan pengecekan akan kebenarannya.

"Biasanya hoax beredar di grup chatting atau media sosial. Bahayanya, banyak orang yang mempercayai berita yang ingin mereka percayai, tanpa melakukan pengecekan ulang tentang keberannya," kata Adelia.

Ia mengimbau agar masyarakat, khususnya kaum wanita, membiasakan menyaring informasi apapun yang akan dibagikan kepada publik. Menurut dia, masyarakat harus smart dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi (TI).

Group Head Corporate Communication XL Axiata, Tri Wahyuningsih, mengatakan, masyarakat membutuhkan edukasi terkait dunia digital, termasuk bahaya hoax. Apalagi, belum semua masyarakat memahami bahaya paparan hoax. "Inilah yang membuat XL menggelar kegiatan corporate social responsibility dalam bentuk edukasi digital bagi masyarakat, khususnya wanita. Harapan kami, masyarakat semakin bijak dalam menyikapi peredaran informasi agar tidak menimbulkan kerugian yang besar," ujarnya.***

Bagikan: