Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya berawan, 27.8 ° C

Cukai Naik, Timbul Rokok-rokok Ilegal

Kodar Solihat

PERKEBUNAN tembakau di Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.*/DOK. AMTI
PERKEBUNAN tembakau di Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.*/DOK. AMTI

BANDUNG, (PR).- Kalangan pelaku usaha tembakau Indonesia yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), berharap Pemerintah Indonesia dapat berlaku lebih adil. Alasannya, kontribusi pendapatan negara dari tembakau cukup tinggi, tetapi kontibusi dari pemerintah dalam membantu dan mempermudah para petani tembakau masih belum adil, terbukti keluarnya regulasi yang menekan para industri tembakau.

Ketua AMTI, Budidoyo, Bandung, Kamis 15 Agustus 2019 menyebutkan, dibandingkan negara negara lain,  di Indonesia dirasakan tidak adil dalam membantu dan membela petani. Ini berkaitan cukai, problemnya banyak misalkan regulasi yang mengurangi atau menambah tekanan kepada industri hasil tembakau.

Ia mencontohkan, terkait mengurangi perfelensi merokok itu pemerintah mengenakan cukai. Ia pun mengeluhkan, adanya regulasi di daerah peraturan peraturan daerah tentang tanpa rokok ini sudah berdampak juga terhadap cukai karena itu menyangkut kepada daya beli masyarakat.
 
Pada Selasa (13/8/2019) lalu, AMTI melakukan Road to World Tobacco Growers Day (WTGD) 2019 di Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung. Budi menganggap, jika pemerintah akan menaikkan cukai maka akan timbul atau muncul rokok-rokok ilegal dan yang dirugikan adalah pemerintah. Sementara untuk para petani  kenaikan cukai itu tidak masalah, karena para pelaku industri masih membeli tembakau ke petani.

Sementara itu untuk lingkup Jawa Barat, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Barat Suryana mengatakan, Jabar merupakan salah satu provinsi penghasil tembakau nomor satu,  dengan kualitasnya. Untuk kalangan dunia, Jawa Barat merupakan daerah penghasil tembakau terbaik nomor 5.

Diketahui saat ini lahan untuk perkebunan tembakau di kabupaten Bandung hanya memiliki lahan seluas 1.524 hektar termasuk Desa Citaman, Kecamatan Nagreg.

Diungkapkan Suryana produksi di Desa Citaman setiap hektare dapat menghasilkan 10 -14 ton tebakau basah, dari tembakau basah tersebut dapat menghasilkan sekitar  3 ton hingga 5 ton daun tembakau kering. Untuk  keseluruhan Jawa Barat Suryana mengatakan bisa menghasilkan 38 ribu ton. Hasil tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan tembakau  di Jabar yang per tahunnya membutuhkan sekitar 138 ribu ton.

"Selama memenuhi kekurangan kebutuhan di Provinsi Jabar, kami mendatangkan dari Jawa Timur (Jatim) sekitar 70 ribu ton tembakau kering dan selebihnya  dari Nusa Tenggara Timur (NTB)," kata Suryana.***

Bagikan: