Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 23.3 ° C

Pelemahan Yuan Belum Berdampak pada Ekspor Indonesia

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI.*/ DOK.PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI.*/ DOK.PIKIRAN RAKYAT

JAKARTA, (PR).- Bank Indonesia mencermati dampak pelemahan ekonomi Tiongkok pada Indonesia. BI optimistis kinerja ekspor Indonesia tidak akan terpengaruh oleh pelemahan mata uang Tiongkok, Yuan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budo Waluyo mengatakan bahwa ekspor Indonesia ke Tiongkok lebih banyak dipengaruhi oleh permintaan dibandingkan volatilitas nilai tukar. "Dalam jangka pendek, devaluasi mata uang tidak begitu terkait pada ekspor, melainkan lebih ke permintaan itu sendiri,"ujarnya di Jakarta, Senin 12 Agustus 2019.

Dia mengatakan, saat ini pertumbuhan ekonomi Tiongkok memang melambat. Pada kuartal II 2019, pertumbuhan ekonomi Tiongkok hanya 6,2 persen. Angka itu turun dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 6,4 persen. Realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan yang terlemah sejak 27 tahun terakhir. 

Menurut Dody, nilai tukar selama ini bukan menjadi faktor utama perdagangan Indonesia ke Tiongkok. Sebab perdagangan dua negara tersebut tak dilakukan dalam denominasi dolar AS. 

Meski demikian, dia mengatakan, kondisi ini tetap akan dicermati oleh BI. Sebab, ada kemungkinan hal ini masih terkait dengan perang dagang antara AS dengan Tiongkok.

Dody mengatakan, perang dagang menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kebijakan suku bunga acuan. Menurut dia, peluang untuk pelonggaran suku bunga acuan BI masih terbukan lebar.

BI pun masih menunggu waktu untuk kembali menurunkan suku bunga acuan. Seperti diketahui, BI telah menurunkan suku bjnga acuannya sebesar 25 basis poin pada Juli 2019.

"Tentunya masalah waktu, akan kami terus lihat risiko ke depannya. Jangan sampai berisiko pada target ekonomi," ujarnya.

Ekonom Center of Reform on Economic, Muhammad Faisal, mengatakan ada ruang pelonggaran suku bunga acuan BI di kuartal III tahun 2019. Hal itu perlu dilakukan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang realisasinya berada di bawah target pada semester I tahun 2019.

"Saya kira butuh dipangkas 25 basis poin lagi. Apalagi ini momemtum yang tepat di saat negara berkembang lainnya sedang dalam trend penurunam suku bunga," ujarnya.***

Bagikan: