Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Umumnya cerah, 24.3 ° C

Lembaga Keuangan Formal Kurang Berperan dalam Pertumbuhan UMKM

Satrio Widianto
ILUSTRASI UMKM.*/ADE BAYU INDRA/PR
ILUSTRASI UMKM.*/ADE BAYU INDRA/PR

JAKARTA, (PR).- Sekretaris Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) Rully Indrawan menilai peran pembiayaan dari lembaga keuangan formal masih dirasa kurang bagi pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia. Terbukti, hingga saat ini baru sekitar 19% pelaku UMKM yang menikmati jasa pembiayaan dari lembaga keuangan. 

"Inilah yang terus menjadi tugas dan tantangan kita semua dalam mendongkrak share pembiayaan bagi UMKM", tandas Prof Rully di depan ratusan pelaku UMKM saat membuka Hari UMKM Nasional 2019, di Jakarta, Senin 12 Agustus 2019.

Disebutkan, di tengah masih rendahnya peran lembaga keuangan, kinerja UMKM terus beranjak naik. Ini artinya selama ini UMKM berjalan dan meningkat secara alami. "Padahal, sejatinya, UMKM bisa berkembang dengan dukungan pembiayaan yang kuat," ujar Prof Rully.

Dia menegaskan bahwa salah satu penopang ekonomi nasional adalah geliat dan kiprah UMKM. "Ekonomi bangsa ini secara signifikan di-support UMKM. Jumlah UMKM kita saat ini sekitar 99% dengan kontribusi terhadap PDB Nasional sebesar 60%. Begitu juga dengan penyerapan tenaga kerja yang begitu besar," ucapnya.

Prof Rully menyebut bahwa pihaknya akan terus mendorong program strategis dalam mengembangkan kinerja UMKM di Indonesia. "Kita terus melakukan pameran-pameran produk unggulan UMKM, baik dalam negeri maupun di luar negeri. Tujuannya, agar produk UMKM kita bisa diterima pasar dengan baik hingga menembus pasar mancanegara", kata Prof Rully seraya menyebutkan, pemerintah juga sudah menurunkan pajak bagi UMKM.

Sementara itu, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop dan UKM Victoria Simanungkalit menambahkan, tantangan produk UMKM lainnya di antaranya adalah nilai ekspor produk UMKM baru sebesar 14%. "Untuk itu, kami akan terus mendorong kualitas produk UMKM, khususnya dalam bidang kemasan. Dengan kemasan yang baik, maka akan berdampak pada meningkatnya nilai produk itu sendiri", katanya.

Victoria menilai, kemasan merupakan bagian penting dari strategi marketing. "Tidak sekadar mewadahi dan melindungi, kemasan merupakan unsur yang mempengaruhi minat konsumen pada sebuah produk yang berujung pada jumlah penjualan," tuturnya.

Menurut Victoria, sangat disayangkan apabila produk unggul tidak mampu menembus pasar hanya karena kemasannya tidak menarik atau kurang memberi informasi yang dibutuhkan pembeli.

Selain soal kemasan, standarisasi dari sebuah produk menjadi sesuatu yang tidak bisa diabaikan. "Kita harus selalu ingat bahwa ke depan tuntutan pasar semakin meningkat. Kita harus siap menghadapi itu. Terlebih lagi, kita sudah menerapkan standar produk (SNI) untuk produk luar yang masuk ke Indonesia. Kita harus terus meningkatkan standarisasi produk hingga bisa berstandar internasional," kata Victoria.***

Tags
Bagikan: