Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Hujan singkat, 29.4 ° C

Kemenperin Genjot Riset Ekstraksi Bahan Baku Alam

Yulistyne Kasumaningrum
SEJUMLAH produk berbahan baku serabut kelapa sedang diperkenalkan saat Bandung Riset Expo (Bandrex) 2019, Di Bandung, belum lama ini. Pemerintah tengah menggenjot penelitian terkait ekstraksi bahan baku alam.*/YULISTYNE/PR
SEJUMLAH produk berbahan baku serabut kelapa sedang diperkenalkan saat Bandung Riset Expo (Bandrex) 2019, Di Bandung, belum lama ini. Pemerintah tengah menggenjot penelitian terkait ekstraksi bahan baku alam.*/YULISTYNE/PR

BANDUNG, (PR).- Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menggenjot penelitian terkait ekstraksi bahan baku alam. Langkah tersebut merupakan salah satu upaya untuk menjawab kebutuhan industri saat ini, menggenjot ekspor dan substitusi impor, serta meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.

Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara mengatakan, pemerintah terus mendorong terciptanya inovasi agar industri nasional dapat terus maju dan berdaya saing global. Langkah strategis ini sesuai program prioritas yang ada di dalam roadmap Making Indonesia 4.0

Pada peta jalan implementasi industri 4.0 di Indonesia tersebut, inovasi memainkan peranan yang sangat penting. Bahkan salah satu aspirasi yang ingin dicapai adalah meningkatnya kegiatan litbang di dalam negeri, yang diharapkan didukung dengan porsi anggaran litbang yang proporsional, yaitu minimal 2% dari total anggaran nasional.

“Semakin meningkatnya peranan inovasi litbang, semoga dapat membantu mewujudkan misi untuk menjadikan Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia di 2030, yang ditandai dengan meningkatnya kontribusi net ekspor sektor industri sebesar 10% terhadap PDB dan peningkatan produktivitas hingga dua kali lipat,” katanya disela kegiatan Bandung Riset Expo (Bandrex) di Bandung, belum lama ini.

Adapun langkah untuk mendorong terciptanya inovasi tersebut adalah melalui riset yang dilakukan sejumlah balai besar Kemenperin, yakni Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T), Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM), Balai Besar Tekstil (BBT), Balai Besar Keramik (BBK), serta Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK).

“Beberapa balai-balai tersebut bahkan telah hadir semenjak zaman Hindia Belanda. Banyak inovasi litbangyasa yang telah dihasilkan oleh balai-balai tersebut,” katanya.

Adapun inovasi-inovasi yang telah dihasilkan, antara lain litbangyasa pengembangan Baterai dan Blok Rem Kereta Api oleh B4T, kemudian pembuatan ATBM Dobby, Geotextile, dan serat tekstil berbasis sabut kelapa oleh BBT, serta menciptakan tapak roda (tracklink) model single dan double pin untuk kendaraan tempur tank yang telah dipatenkan oleh BBLM.

Selanjutnya, pembuatan Filter Keramik, Rompi Anti Peluru, Gigi Buatan, Bone Ash, Elektrolit Padat oleh BBK, serta produk kertas karton dari tandan kosong sawit, kertas kemas baja, daur ulang kemasan aseptik, dan produk serat bambu oleh BBPK.

“Penelitian yang dilakukan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan Industri pada saat itu. Adapun untuk saat ini, penelitian yang dilakukan lebih banyak difokuskan pada ekstraksi bahan baku alam, seperti karet, kepala, dan minyak sawit, yang kita ketahui Indonesia kaya akan bahan baku tersebut,” katanya.

Industri Mendukung

Langkah menggenjot riset yang dilakukan pemerintah mendapatkan sambutan positif dari kalangan industri. Salah satunya Suzuki Indomobil Motor Suplier Club yang menandatangani kerjasama dengan B4T, BBPK, BBLM dan BBT.

“Cukup banyak inovasi yang telah dilakukan di balai besar tapi mungkin belum direalisasikan ke komersial. Ini kesempatan yang baik sekali bagi industri. Tinggal penelitian ini terkoneksinya kemana yang pasti kami dengan anggota sangat siap,” kata Chairman Suzuki Indomobil Motor Suplier Club Johan Tamsir.

Johan menambahkan, riset yang dilakukan pemerintah merupakan bantuan yang sangat riil bagi industri. Disinggung mengenai hasil riset yang diincar, dia menuturkan ada sejumlah hasil penelitian yang dilirik. Salah satunya produk dari serabut kelapa yang selain bisa digunakan di otomotif juga dapat dikembangkan ke banyak segmen lainnya.

“Kita melihat beberapa prsentasi, banyak hal sebetulnya yang bisa dilakukan,” katanya.

Advisor Suzuki Indomobil Motor Suplier Club Apriyanto lebih lanjut mengatakan bersama dengan balai besar, pihaknya mencoba mencari terobosan baru yang tentunya diharapkan dapat menghasilkan produk dengan harga yang kompetitif.

“Dengan beberapa teknologi baru yang bisa masuk dan principal di Jepang pun menyetujui, tentu kami sangat mendukung sekali. Apalagi saat ini pabrik kami tengah di-assessment apakah pabrik kami sudah siap untuk 4.0, maka vendor pun harus ikut,” katanya.***

 

Bagikan: