Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.1 ° C

Harga Emas Kian Kinclong

Yulistyne Kasumaningrum
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

BANDUNG, (PR).- Memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok menyebabkan harga komoditas emas terus naik. Bahkan pada Selasa, 6 Agustus 2019, harga logam mulia Pt Aneka Tambang Tbk (Antam) berada diangka Rp 739.000 per gram atau naik Rp 15.000 dibandingkan hari sebelumnya. 

Sementara harga buyback atau pembelian kembali emas tercatat Rp 666.000 per gram atau naik Rp 13.000. Mengutip CNBC harga emas di pasar spot naik 1,4 persen ke level 1.460,60 Dolar AS per ounce. Sedangkan  harga emas berjangka juga naik 1,1 persen ke level USD 1.473 per ounce.

Bersinarnya harga komoditas emas ditengah kondisi global saat ini juga telah disampaikan CEO Perusahaan pialang berjangka, PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) Teddy Prasetya di Bandung belum lama ini. Menurut dia, perang dagang antara AS dan Tiongkok akan memengaruhi perkembangan harga komoditas didunia.

Hanya, untuk komoditas emas diprediksi akan terus meningkat seiring masih berlanjutnya ketegangan diantara kedua raksasa ekonomi dunia tersebut.

“Emas sendiri semakin tidak pasti kondisi ekonomi harganya akan semakin naik. Harga emas justru akan terpengaruh saat ekonomi adem,” katanya.

Sementara terkait dengan kinerja, RFB menutup semester I -2019 dengan kinerja positif. Capaian tersebut ditandai dua hal, yakni pertumbuhan total volume transaksi yang naik sebesar 10,50 persen menjadi 680.141 lot dan diikuti pertumbuhan nasabah baru yang meningkat 29,14 persen atau
sebanyak 1.693 nasabah baru, dibandingkan semester pertama tahun lalu.

“Sepanjang enam bulan pertama, kami tumbuh moderat dan masih menempati posisi teratas di industri, kendati kondisi perekonomian masih sedikit melambat.Semua karena dukungan dari para nasabah, karyawan dan stakeholder yang senantiasa bersama RFB,” katanya.

Dijelaskan, raihan tersebut tak terlepas pula dari total volume transaksi bilateral atau sistem perdagangan alternatif (SPA) yang masih menjadi pendorong utama kinerja perseroan dengan kontribusi mencapai 78,67 persen, dan mengalami kenaikan sebesar 23,02 persen menjadi 535.069 lot.

Sedangkan total volume transaksi multilateral (komoditi) terkoreksi sebesar 19,65 persen menjadi 145.072 lot dibandingkan semester pertama di tahun 2018 sebesar 180.556 lot.

Catatan serupa juga ditorehkan RFB Bandung. Jumlah nasabah baru tumbuh signifikan yakni sebanyak 287 nasabah atau naik 86,36 persen. Total volume transaksi juga mengalami peningkatan sebesar 46,30 persen menjadi 71.273 lot dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. 

Sedangkan secara jumlah, kontribusi cabang Bandung terhadap total volume transaksi RFB nasional sekitar 10,47%.

Pimpinan Cabang RFB Bandung, Anthony Martanu menambahkan catatan positif tersebut tak terlepas dari keputusan pihaknya yang mengedepankan edukasi. Alasannya pemahaman masyarakat merupakan elemen yang penting dalam upaya memperluas pasar.

“Sebelum nasabah bertransaksi kami menyediakan demo akun bagi nasabah. Melalui hal ini nasabah akan mengerti dahulu potensi keuntungan dan risiko yang ada. Harapannya kemudian animo investasi berjangka di Bandung akan sama bergairahnya dengan instrumen investasi lainnya,” katanya.***

Bagikan: