Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya berawan, 27.8 ° C

Listrik Padam, Rp 200 Miliar “Menguap” di Kabupaten Bandung

Handri Handriansyah
PLN/DOK. PR
PLN/DOK. PR

SOREANG, (PR).- Industri tekstil di Kabupaten Bandung diperkirakan mengalami kerugian hingga Rp 200 miliar akibat padamnya listrik sekira 5 jam pada Minggu 4 Agustus 2019. Angka itu mencapai 40 persen dari total kerugian yang diperkirakan dialami industri tekstil se-Jawa.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Pusat Ade Sudrajat mengatakan, dari sekian banyak industri tekstil di Jawa, sekira 44 persennya saat ini berada di Kabupaten Bandung.

"Tak heran jika hampir setengah dari kerugian yang terjadi memang dialami para pelaku industri tekstil di Kabupaten Bandung," ucapnya, Senin 5 Agustus 2019.

PEKERJA menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat, 4 Januari 2019.*/ANTARA

Menurut Ade Sudrajat, estimasi kerugian tersebut timbul tidak hanya akibat proses produksi yang terhenti begitu saja. Karena padamnya listrik, muncul juga kerugian dari kerusakan mesin dan hasil produksi.

"Kerugian yang kami alami tidak hanya karena berhenti produksi. Sejumlah mesin mengalami kerusakan di bagian CPU karena listrik mati tiba-tiba. Kain yang tengah dicelup harus terhenti dan menjadi belang, benang yang sedang ditenun menjadi rusak," tutur Ade.

Risiko kebakaran dan bakteri yang mati

Selain itu, kata Ade Sudrajat, para pelaku industri tekstil juga harus mengeluarkan biaya tak terduga untuk pengamanan lingkungan tempat produksi mereka. Belum lagi menghitung para pekerja yang tetap harus dibayar meski sejak mereka datang ke pabrik, tidak bekerja.

"Pabrik harus dijaga lebih ketat karena penerangan harus menggunakan lilin dan berisiko kebakaran jika tak diawasi," tutur dia.

Di sisi lain, Ade Sudrajat menegaskan bahwa terhentinya aliran listrik juga membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berhenti beroperasi. Terutama mesin oksigen yang jelas tak bisa berjalan tanpa listrik.

Tidak beroperasinya mesin oksigen IPAL membuat bakteri pengurai air limbah dalam instalasi tersebut terancam mati. "Kalau sampai mati, butuh waktu sedikitnya tiga pekan untuk menumbuhkan kembali bakteri tersebut," ucapnya.

Menurut Ade Sudrajat, kerugian tersebut sebenarnya bisa dihindari seandainya industri masih diperbolehkan menggunakan genset dalam keadaan darurat. Setidaknya, genset bisa menghindari berhentinya CPU mesin secara tiba-tiba akibat terhentinya aliran listrik.

Dengan begitu, CPU mesin produksi tidak akan sampai mengalami kerusakan saat aliran listrik terhenti tiba-tiba. Begitu pula nasib hasil produksi yang masih setengah jadi dan bakteri pengurai limbah bisa dihindari risiko kerugiannya.

Kepada PLN, Ade Sudrajat menyayangkan pemadaman aliran listrik yang begitu tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Apalagi rencananya pemadaman serupa masih akan dilakukan secara bergilir dalam beberapa hari ke depan.***

Bagikan: