Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Pelaku Industri Tekstil Dirugikan Lagi karena Listrik Padam, PLN Dinilai Tidak Profesional

Yulistyne Kasumaningrum
ILUSTRASI pemadaman listrik.*/ANTARA
ILUSTRASI pemadaman listrik.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Industri kembali menelan kerugian yang cukup besar akibat terputusnya lagi pasokan listrik. Kejadian yang sudah sering berulang akibat gangguan di fasilitas yang dimiliki PLN dinilai sebagai cerminan ketidakprofesionalan manajemen dari perusahaan pelat merah tersebut.

Menanggapi padamnya listrik yang terjadi pada Minggu, 4 Agustus 2019, Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat, Kevin Hartanto, mengungkapkan, hal itu tentu menimbulkan kerugian yang tidak sedikit yang harus ditanggung industri. Mulai dari terganggunya proses produksi, labor cost yang terbuang sia-sia, bahan baku yang terbuang, hingga kerusakan komponen elektrik pada mesin.

Kevin yang dihubungi “PR” Minggu, 4 Agustus 2019, memaparkan, proses produksi industri tidak mengenal hari Minggu ataupun malam. Artinya, aktivitas produksi dilakukan selama 24 jam yang terdiri dari tiga shift dan empat regu.

Karena itulah, pemadaman yang terjadi secara tiba-tiba menyebabkan shift yang bertugas pada masa tersebut tidak dapat melakukan pekerjaannya karena tidak ada listrik. Artinya, labor cost tetap dibayar meski tidak ada kegiatan produksi yang dilakukan.

Berkaitan dengan proses produksi, pemadaman akan mengganggu proses pemintalan benang. Saat listrik padam tiba-tiba, proses spinning terganggu dan benang pun terputus. Untuk membereskan hal tersebut, diperlukan setidaknya satu shift pekerja.

Kemudian, pada industri tenun, pemadaman menyebabkan hasil kain yang diproduksi akan dibawah standar sehingga dipastikan menjadi kerugian. Sementara, pada proses pencelupan, semua zat kimia yang telah ditumpahkan tidak dapat dipergunakan lagi. Kain yang tengah dicelup pun warnanya akan belang sehingga membutuhkan beberapa kali perbaikan.

“Belum lagi jika kita berbicara berapa banyak komponen listrik di mesin yang rusak. Jangankan berhenti total, komponen yang sensitif ketika hanya trip 1-2 detik pun akan mengalami kerusakan, apalagi kalau berhenti total. Kemudian, juga Ipal yang menggunakan listrik. Maka bisa dibayangkan berapa besar dampak kerugiannya bagi industri,” ujar Kevin.

PEKERJA menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat, 4 Januari 2019.*/ANTARA

Pengusaha industri kecewa karena kerusakan fasilitas PLN terus saja terjadi

Merujuk pada besarnya ancaman kerugian yang dihadapi industri serta berulangnya pemadaman listrik, diakui Kevin, sangat disayangkan. Pelaku usaha tak menyangka peristiwa tersebut akan kembali terjadi.

Jika merunut ke 10-11 tahun yang lalu, kata dia, pemadaman bergilir cukup sering terjadi karena untuk menjaga sistem di Jawa Bali. Kala itu, PLN berkoordinasi dulu dengan pengusaha industry agar tidak terjadi blackout.

“Tapi, sepertinya tahun lalu mulai terulang kembali. Sesuatu yang wajar jika ada gangguan tetapi pertanyaannya, seberapa serius penanganan yang dilakukan,” ujar Kevin.

Bahkan jika kerusakan fasilitas PLN terjadi secara bersamaan, maka patut dipertanyakan bagaimana manajemen pengelolaan PLN. Apalagi jika merujuk pada kondisi industri saat ini, Kevin menilai, semestinya PLN mengalami over supply karena pada semester I-2019 cukup banyak industri TPT yang produksinya hanya tersisa 50-60% dari kapasitasnya akibat kondisi pasar yang sepi.

“Kenapa bisa rusak sekaligus? Ini menjadi pertanyaan. Ada yang tidak beres. Belum lagi dengan konsumsi industri yang turun mestinya over supply, namun mengapa bisa terjadi seperti ini, cukup aneh,” katanya.

Disinggung mengenai kemungkinan untuk menyampaikan keluhan industri terkait pemadaman yang terjadi, Kevin mengatakan, industri kerap melayangkan surat kepada PLN saat terjadi pemadaman bergilir. Namun, jawaban yang diperoleh industri hanya diminta untuk memaklumi kondisi yang terjadi, diminta menyediakan genset, dan penawaran menjadi pelanggan premium agar pasokan listrik terjaga meski dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan tarif biasa.

“Perlu ada langkah untuk memperbaiki masalah yang sebenarnya agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi ke depannya,” kata Kevin.

Sebelum terputusnya pasokan listrik pada Minggu, 4 Agustus 2019, pemadaman juga pernah terjadi pada awal September 2018 akibat adanya gangguan Sutet Paiton-Grati 1,2 yang menyebabkan putusnya sistem pasokan jaringan listrik Jawa, Madura, Bali (Jamali). Terputusnya pasokan listrik akibat gangguan Sutet Paiton-Grati mencapai total 3.964.

Akibatnya, wilayah kerja PT PLN Distribusi Jabar terkena dampak beban padam sebesar 815,52 MW yang meliputi beberapa area. Di antaranya Bandung, Bekasi, Cianjur, Cimahi, Cirebon, Garut, Karawang, Purwakarta, Majalaya, Sumedang, Tasikmalaya, Depok, Gunung Putri, Sukabumi, dan Bogor.***

Bagikan: