Pikiran Rakyat
USD Jual 14.260,00 Beli 14.162,00 | Sebagian cerah, 28 ° C

Mendag ke Tiongkok, Ekspor Sarang Burung Diharapkan Berlipat

Satrio Widianto

FOTO ilustrasi sarang burung walet.*/ANTARA
FOTO ilustrasi sarang burung walet.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).-  Kunjungan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ke Tiongkok untuk melobi syarat dan proses ekspor sarang burung walet ke negeri tirai bambu itu agar dipermudah, mendpat acungan jempol. Pasalnya, hingga saat ini pelaku usaha masih merasakan kesulitan mengekspor sarang burung walet ke Tiongkok.

"Dengan upaya Kemendag ini, diharapkan ekspor sarang burung walet ke Tiongkok bisa naik hingga 2 kali lipat tahun ini," kata eksportir sarang burung walet yang juga Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPBSI) Boedi Mranata di Jakarta.

Seperti diketahui, Menteri Enggar memulai serangkaian langkah lobi di Tiongkok untuk mendongkrak ekspor dengan negeri raksasa itu. Komoditas yang diharapkan menjadi pendongkrak neraca ini adalah crude palm oil (CPO), buah-buahan, dan sarang burung walet.

Dia mengatakan, syarat ekspor sarang burung walet ke Tiongkok cukup ketat, sehingga upaya pemerintah untuk mengatasi kesulitan eksportir tersebut patut diapresiasi. "Mungkin syarat-syarat ketat itu dicoba agak diperlunaklah, agak digampangkan. Sebab, dengan syarat yang ketat itu memang masuk pasar ke Tiongkok lebih sulit ya,” ujar Boedi.

Diungkapkan, PPBSI menargetkan ekspor sarang burung walet ke Tiongkok mencapai 140 ton pada tahun 2019, jika upaya yang dilakukan Kemendag membuahkan hasil positif. Jumlah tersebut, kata Boedi, setara dua kali lipat jumlah ekspor sarang burung walet ke Tiongkok pada tahun 2018 sebesar 70 ton. Sementara, total sarang burung walet yang bisa Indonesia ekspor ke pasar global sepanjang tahun 2018 sebanyak 1.596 ton. 

Selain kemudahan, PPBSI juga berharap kuota ekspor sarang burung walet dapat bertambah seiring kunjungan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ke Tiongkok untuk mendorong ekspor komoditas tersebut. Soalnya saat ini pemerintah China hanya memberi kuota impor sarang burung walet dari Indonesia sebanyak 150 ton dalam setahun. "Dua kali lipat udah happy-lah. Nanti tahun depan nambah lagi,” ujarnya. 

Mesti cermat

Pengamat perdagangan internasional Universitas Indonesia Fithra Faisal juga menilai, langkah Enggar menyambangi Tiongkok untuk mendorong ekspor sejumlah komoditas merupakan tindakan tepat. Namun ia juga mengingatkan, pemerintah mesti cermat dalam melakukan negosiasi dagang dengan Tiongkok. Lantaran negara tersebut biasanya juga akan menawarkan produknya untuk dijual ke Indonesia sebagai timbal balik. 

“Biar bagaimana pun, saya rasa ini sebuah strategi yang cukup baik ya. Karena memang selama ini kan kita tidak terlalu aktif dalam melakukan pendekatan dari sisi ekspor,” kata Fithra.

Menurut Fithra, Tiongkok merupakan negara aliansi strategis di masa depan. Ini lantaran Tiongkok diprediksi akan mengalihkan jaringan produksinya ke Asia, terutama Asia Tenggara. Mengingat saat ini Amerika sudah menjadi rival perdagangan sehingga Tiongkok diprediksi akan terkonsentrasi pada Asia dalam membuat jaringan produksi. "Saya rasa sudah on the right track ya yang dilakukan Kemendag,” tandasnya. 

Sementara itu, Pelaksana Harian Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Veri Anggrijono baru saja menyaksikan acara penandatanganan kontrak ekspor sarang burung walet antara perusahaan Indonesia dengan perusahaan asal Tiongkok di Jakarta. 

Penandatanganan kontrak tersebut dilakukan oleh Direktur Utama PT Tong Heng Investment Indonesia Suyanti Ang dengan Pimpinan Quanzhou Yuyan Family Biotechnology Co., Ltd (Bird Nest Diary) Lu Yu Meng dan Pimpinan Xiamen Fuen Imp & Exp Co., Ltd. Lin Wei Ting. 

“Pada kesempatan ini, kita menyaksikan penandatanganan kontrak ekspor sarang burung walet ke Tiongkok  sebanyak 10 ton. Hal ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan ekspor komoditas sarang burung walet ke pasar China,” ujar Veri.***

Bagikan: