Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Perekonomian Global Melambat, Diyakini karena Rencana Donald Trump Tahun 2020

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI ekspor impor.*/REUTERS
ILUSTRASI ekspor impor.*/REUTERS

MEDAN, (PR).- Bank Indonesia memprediksi ekonomi global akan melambat pada semester II tahun 2019. Kebijakan BI menurunkan suku bunga acuannya 25 basis poin pekan lalu diharapkan menjadi pemicu gairah pasar modal dan ekspor Indonesia.

Deputi Gubernur BI Doddy Budi Waluyo mengatakan, sebelumnya banyak pihak mempertanyakan kebijakan BI yang belum menurunkan suku bunganya di tengah inflasi rendah. Menurut dia, hal itu terjadi karena BI perlu meyakini bahwa ketidakpastian global cukup terkendali.

Dia mengatakan, perang dagang sudah mengakibatkan Amerika Serikat memenambahkan tarif impor Tiongkok sebesar 25 persen dari total nilai 200 miliar dolar. Sebaliknya, Tiongkok juga sudah menerapkan tambahan tarif impor sebesar 25 persen dari total nilai impor Amerika Serikat 60 miliar dolar.

Dodi mengatakan, kebijakan perang dagang menyebabkan perlambatan ekonomi yang tidak hanya terjadi di dua negara tersebut tetapi juga negara maju dan berkembang lainnya.

"Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalami perlambatan ekspor. Dampaknya, pertumbuhan konsumsi akan bertahan karena pendapatan ekspor, terutama komoditas sumber daya alam akan berkurang," ujarnya di Medan.

null

Di sisi lain, investasi juga mengalami perlambatan sebagai dampak ketidakpastian perang dagang. Berbagai negara, termasuk Indonesia berusaha menahan perlambatan dengan menaikan belanja pemerintah.

"Belanja pemerintah diharapkan dapat mengakselerasi perekonomian sehingga investasi kembali meningkat," ujarnya.

Dia mengatakan, banyak pelaku pasar yang percaya bahwa langkah perang dagang merupakan cara Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumpulkan bahan kampanyenya tahun 2020. Dengan demikian,  perang dagang akan tetap berlangsung hingga pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2020.

Di sisi lain, hal itu justru memberikan prediksi kuat bahwa ekonomi global pasti akan tetap melambat hingga 2020. "Dengan posisi ini, BI meyakini gambaran ketidakpastian global menjadi lebih terukur.  Untuk itulah BI mengeluarkan kebijakan yang memotong suku bunganya," ujar Doddy.

Pertumbuhan 5,1 persen

Ekonom Core, Hendri Saparini memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi 2019 tidak akan lebih dari 5,1 persen. "Untuk menjadi 5,1 persen pun usahanya harus cukup," ujar dia.

Dia mengatakan, realisasi pertumbuhan ekonomi semester I tahun 2019 meleset dari perkiraan pasar.

"Awalnya kita berharap dari semester 1 ada dari Lebaran dan pemilu. Meski demikian, momen pemilu kurang berdampak terhadap konsumsi karena kampanye banyak dilakukan secara daring. Sementara momen Lebaran yang berdekatan dengan tahun ajaran baru menyebabkan sebagian masyarakat menyimpan dananya untuk (belanja) pendidikan pertangahan tahun," ujarnya.

Hendri mengapresiasi kebijakan BI yang menurunkan suki bunga acuannya. "Kita berharapa penurunan suku bunga menjadi stimulus di tengah penurunan kinerja manufaktur. Meski sulit mendongrak pertumbuhan, setidaknya ada sinyal positif dari pemangku kebijakan, "ujarnya.***

Bagikan: