Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 25.9 ° C

Indonesia Harus Genjot  Ekspor ke Tiongkok

Satrio Widianto
ILUSTRASI.*/ DOK.PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI.*/ DOK.PIKIRAN RAKYAT

JAKARTA, (PR).–  Pemerintah Indonesia harus  mendorong ekspor berbagai produk maupun komoditas ke negara tirai bambu, Tiongkok. Pasalnya, gap nilai perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok kian besar, yang disinyalir sebagai imbas perang dagang antara negara tersebut dengan Amerika Serikat.

"Potensi pasar China sangat besar karena jumlah penduduknya terbanyak. Oleh karena itu. Menteri Perdagangan harus lebih aktif melakukan lobi-lobi dengan China," kata pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus di Jakarta, Kamis 18 Juli 2019.

 Dia menyebutkan bahwa Indonesia juga masih memiliki banyak produk dan komoditas yang bisa meningkatkan nilai ekspor Indonesia. "Sebenarnya masih bisa diupayakan dengan berbagai strategi. Jadi yang namanya berdagang atau bekerja sama itu dalam hal ini kita konteksnya bersaing, jadi produknya yang bersaing,” ujar Heri.

Dia mengatakan, pemerintah bisa mengidentifikasi produk atau komoditas mana saja dari Indonesia yang bisa dioptimalkan produksinya sehingga bisa meningkatkan nilai ekspor. Menurut dia, optimalisasi produksi dapat menekan nilai defisit Indonesia terhadap perdagangan dengan Tiongkok yang pada tahun 2018 meningkat hingga hampir setengahnya.

Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan (Kemendag), nilai defisit perdagangan Indonesia terhadap Tiongkok pada tahun 2018 mencapai US$ 18,40 miliar. Angka ini terpantau meningkat sekitar 45% dibandingkan defisit perdagangan Indonesia terhadap Tiongkok pada 2017 yang hanya senilai US$ 12,68 miliar. Sementara, nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok pada periode Januari hingga April 2019 terpantau turun dibandingkan capaian ekspor periode sama tahun sebelumnya, yakni dari US$ 11,13 miliar menjadi US$ 10,34 miliar.

Sementara, nilai impor Indonesia dari Tiongkok pada tahun 2018 meningkat 27,31% (yoy) dari US$ 35,76miliar pada tahun 2017 menjadi US$ 45,53 miliar pada tahun 2018.  “Artinya mereka nggak apa-apa, kitanya yang apa-apa. Artinya dengan ada perang dagang, China bisa cari pasar alternatif selain ke Amerika Serikat. Mereka ke Indonesia, India, dan negara lainnya,” sambung Heri.

Seperti diketahui,  Wakil Sekretaris Jenderal China-ASEAN EXPO (CAEXPO), Yang Yanyan sebelumnya menyebutkan bahwa ada sejumlah produk Indonesia yang dibutuhkan oleh penduduk China, salah satunya minyak alami anti-nyamuk dari lavender.  “Kami juga tertarik pada buah durian. Kami baru tahu ternyata ada juga di Indonesia. Selama ini penduduk China tahunya buah durian dari Thailand,” ujarnya.

Harus lebih cermat

Heri menyarankan, pemerintah agar lebih cermat menangkap peluang perdagangan yang telah diungkap Tiongkok. Menurut Heri, sejumlah komoditas pertanian yang kerap dianggap sepele oleh penduduk Indonesia perlu dibudidayakan agar kebutuhan negara tujuan ekspor dapat dipenuhi, meski dalam jumlah besar sekalipun.

Dia menyarankan Kementan meningkatkan standar produksi komoditas tanaman, agar dapat lebih mudah diekspor ke pasar global. Menurutnya hal ini harus dilakukan, mengingat sejumlah negara seperti Tiongkok  dan Jepang kerap memberlakukan non-tariff measure (NTM) terhadap produk-produk makanan yang akan masuk ke negara mereka.

Tiongkok merupakan pasar yang penting untuk dikejar nilai pedagangannya. Mengingat, negara ini masih menjadi negara dengan populasi terbesar di dunia yang mencakup hampir 20% populasi dunia. ***

 

 

Bagikan: