Pikiran Rakyat
USD Jual 14.282,00 Beli 14.184,00 | Umumnya cerah, 20.5 ° C

Kenaikan Harga Transportasi Penyumbang Terbesar Inflasi

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI inflasi meningkat./DOK. PR
ILUSTRASI inflasi meningkat./DOK. PR

CILEGON, (PR).- Inflasi Kota Cilegon mengalami kenaikan hingga 0,37 persen pada Juni. Sektor transportasi menjadi penyumbang terbanyak tingginya inflasi bulan lalu. 

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cilegon, peningkatan inflasi terjadi karena indeks harga konsumen (IHK) sejumlah kelompok pengeluaran mengalami kenaikan. Seperti bahan makanan mengalami kenaikan sebesar 0,48 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,11 peesen, sandang naik 0,23 persen, pendidikan, rekreasi, olah raga naik 0,10 persen, dan tranportasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik 1,17 persen.

Kepala BPS Kota Cilegon Bambang Suyatno mengatakan, hampir selurh kelompok pengeluaran pada Juni lalu mengalami peningkatan. "Hanya kelompok pengeluaran kesehatan yang mengalami penurunan sebesar 0,01 persen," kata Bambang saat ditemui di kantor BPS Kota Cilegon, Kamis 18 Juli 2019.

Menurut Bambang, angka inflasi Kota Cilegon lebih kecil dibandingkan Kota Serang dan Kota Tangerang. Dimana inflasi Kota Serang mengalami inflasi 0,49 persen dan Kota Tangerang mengalami inflasi 0,59 persen. "Di Banten, Kota Cilegon di peringkat tiga kenaikan inflasi. Namun pada skala nasional, Kota Cilegon berada di peringkat 13," ujarnya kepada wartawan Kabar Banten, Sigit Angki Nugraha.

Sementara itu, Kasi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik (IPDS) pada BPS Kota Cilegon Insan Wahyu Hidayat menjelaskan, transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar karena pengaruh dari arus mudik. "Kereta dan kapal laut tidak alami kenaikan, sedangkan bus, alami lonjakan harga, khususnya pada masa tuslah," tutur Insan.

Menurutnya, tuslah bus saat itu tidak diatur oleh pemerintah. Kenaikan harga ditetapkan atas kesepakatan para pengusaha bus. "Karena tidak ditentukan pemerintah, jadinya kenaikan ongkos bus terbilang tinggi. Misalnya harga normal Rp100 ribu melonjak jadi Rp300 ribu," ungkapnya.***

Bagikan: