Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sedikit awan, 25.3 ° C

Serangan Ulat Amerika Meluas

Tim Pikiran Rakyat
HAMA Spodoptera Frugiperda.*/JAMES CASTNER
HAMA Spodoptera Frugiperda.*/JAMES CASTNER

SERANG,(PR).- Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang menyebutkan serangan ulat Spodoptera frugiperda yang diduga berasal dari Amerika semakin meluas di Kabupaten Serang. Bahkan hingga saat ini luasan lahan yang menjadi korban sudah mencapai 70 hektare jagung.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Dinas Pertanian Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana mengatakan, saat ini sudah banyak petani yang menggunakan pengendali berbahan aktif untuk mengurangi serangan hama ulat tersebut.

Hanya saja di pasaran saat ini khususnya di Banten belum ada pengendali berbahan aktif tersebut. Kebanyakan para petani masih membeli secara online. "Belum ada di kios-kios di Banten," ujarnya kepada wartawan Kabar Banten, Dindin Hasanudin, Selasa 16 Juli 2019.

Zaldi mengatakan, belum ada di kios tersebut karena memang belum banyak perusahaan pestisida yang memproduksi bahan aktif khusus ulat tersebut.

Ia mengatakan, serangan ulat tersebut berkembang sangat cepat. Pada awalnya hanya kebun jagung di wilayah Cikoneng Kecamatan Anyer yang di serang. Namun kini meluas hampir ke semua wilayah Kabupaten Serang. "Tapi masih terkendali dan sudah nyebrang ke kabupaten/kota lain ke Lebak Pandeglang katanya sudah ada. Kalau di kita ada di Kopo, Petir, Pamarayan, Baros dan lainnya," ucapnya.

Ia mengatakan, sampai saat ini total lahan yang di serang mencapai 70 hektar. Namun serangan itu berbeda beda tingkatan. "Ada yang berat, sedang dan ringan. Tapi sejauh ini masih terkendali artinya dari lahan terserang itu ada yang masih bisa produksi juga," katanya.

Zaldi menuturkan, ulat tersebut diduga menyebar dalam bentuk kupu kupu yang terbawa kendaraan. Atau bisa juga terbawa jagung dari Sumbar dan Lampung. "Atau dari jagung impor yang terbawa dari luar negeri," tambahnya.

Disinggung soal pemusnahan dengan cara dibakar yang beberapa lalu disarankan, Ia mengatakan para petani masih keberatan. Oleh karena itu apa yang diberikan hanya bersifat imbauan namun solusi akhir tetap ads di petani. "Mereka masih optimis bahwa itu masih bisa menghasilkan. Kalau kita enggak bisa memaksakan tapi kita minta pengendalian secara kimiawi," tuturnya.

Zaldi mengatakan, berkaca pada literatur, hama ini bisa saja menyerang cabe, terong-terongan hingga padi. Karena memang hama ini masih satu famili dengan hama yang biasa menyerang padi. “Hanya beda spesies, jadi kemungkinan bisa menyerang padi juga. Tapi belum pernah ditemukan di padi, di Lampung dan Sumbar juga menyerang baru jagung,” ucapnya.***

Bagikan: