Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 29.1 ° C

Utang Luar Negeri Indonesia Melambat pada Mei 2019

Yusuf Wijanarko
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

JAKARTA, (PR).- Utang luar negeri Indonesia pada akhir Mei 2019 naik 7,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 386,1 miliar dolar atau setara dengan Rp 5.521 triliun jika menggunakan asumsi kurs tengah Bank Sentral akhir Mei, Rp14.380 per dolar.

Pertumbuhan utang luar negeri pada Mei 2019 itu lebih lambat dibandingkan April 2019 yang tumbuh 8,8 persen yoy.

Berdasarkan Statitistik Utang Luar Negeri Indonesia per Mei 2019 yang diumumkan Bank Indonesia di Jakarta, Senin 15 Juli 2019, utang luar negeri (ULN) Indonesia sebesar 386,1 miliar dolar terdiri atas utang pemerintah dan bank sentral sebesar 189,3 miliar dolar serta utang swasta termasuk BUMN sebesar 196,9 miliar dolar.

"Pertumbuhan ULN Mei 2019 terutama dipengaruhi transaksi pembayaran neto ULN dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar sehingga utang dalam rupiah tercatat lebih rendah dalam denominasi dolar. Perlambatan pertumbuhan ULN bersumber dari ULN swasta, di tengah pertumbuhan ULN pemerintah yang tetap rendah." Demikian isi laporan Bank Indonesia seperti dilaporkan Antara.

ULN pemerintah sebesar 186,3 miliar dolar atau naik 3,9 persen yoy. Angka itu meningkat dibandingkan pertumbuhan April 2019 yang sebesar 3,4 persen. Kenaikan ULN terjadi karena penerbitan surat utang global pemerintah (global bonds).

Kendati meningkat, nilai ULN pemerintah pada Mei 2019 menurun dibandingkan April 2019 yang sebesar 186,7 miliar dolar AS.

Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran neto pinjaman senilai 0,5 miliar dolar dan dilepasnya kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh non-residen Indonesia senilai 1,5 miliar dolar.

Berkurangnya kepemilikan asing di SBN dipengaruhi faktor ketidakpastian di pasar keuangan global yang meningkat seiring eskalasi ketegangan perdagangan.

Membiayai pembangunan

Menurut Bank Sentral, pengelolaan ULN pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Rinciannya yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial dengan porsi 18,8 persen dari total ULN pemerintah, sektor konstruksi (16,4 persen), sektor jasa pendidikan (15,8 persen), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,1 persen), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (14,3 persen).

ULN debitur swasta umbuh 11,3 persen yoy. Pertumbuhan ULN itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan April 2019 yang sebesar 14,7 persen yoy karena menurunnya posisi utang di sektor jasa keuangan dan asuransi.

Pada Mei 2019, ULN swasta didominasi sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara, serta sektor pertambangan dan penggalian dengan total pangsa 75,2 persen terhadap total ULN swasta.

Secara keseluruhan, Bank Sentral menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat. Hal itu terlihat dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto akhir Mei 2019 sebesar 36,1 persen atau di kisaran yang sama dengan April 2019.

Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi ULN berjangka panjang dengan pangsa 87,3 persen dari total ULN.***

Bagikan: