Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Koperasi Permudah Transformasi Ekonomi Masyarakat

Asep Budiman
MENTERI Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution membuka peringatan Hari Koperasi Nasional ke-72 di GOR Satria Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat, 12 Juli 2019.*/ASEP BUDIMAN/PR
MENTERI Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution membuka peringatan Hari Koperasi Nasional ke-72 di GOR Satria Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat, 12 Juli 2019.*/ASEP BUDIMAN/PR

PURWOKERTO, (PR).- Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution menekankan bahwa pemerintah pusat telah menjalankan pemerataan ekonomi melalui reforma agraria, seperti redistribusi lahan dan perhutanan sosial. Pemerintah akan melakukan percepatan upaya melalui koperasi agar terjadi transformasi ekonomi.

"Budi daya diperbaiki dengan teknologi dan dibantu KUR. Jika terbentuk kelompok, kluster, atau koperasi, KUR lebih mudah diberikan," ucap Darmin di sela-sela peringatan Hari Koperasi Nasional ke-72 di GOR Satria Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat, 12 Juli 2019.

Ke depan, Darmin memperkirakan, akan ada ribuan koperasi yang terbentuk dan menjadi transformasi ekonomi. Dengan metode kelompok, kluster, atau koperasi akan terjadi perubahan dan kemajuan ekonomi, sekaligus memperbanyak nilai tambah petani.

Di depan Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga, Ketua Umum Dekopin Nurdin Halid, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan para Bupati/Walikota se-Indonesia, Darmin menyebutkan, alokasi KUR dengan bunga murah 7% akan mudah tersalurkan untuk membantu pembiayaan KUMKM.

"Dengan membentuk koperasi, kita juga akan lebih mudah mengorganisasikannya. Begitu juga dengan perbaikan di sisi budi daya lewat teknologi," ujar Darmin.

Darmin menambahkan, penerima KUR memang individu-individu. Namun, koperasi bisa memberikan daftar nama siapa-siapa UKM yang menjadi anggota koperasi yang layak mendapatkan KUR.

"Saya mencontohkan, dengan transformasi ekonomi, petani tetap melakukan kegiatan menanam. Tapi, dengan perkuatan modal, petani menanam tanaman yang lebih menguntungkan," ucap Darmin.

Lebih jauh, ungkap Darmin, kebijakan redistribusi lahan bisa dilakukan secara maksimal. Dalam kebijakan Perhutanan Sosial, Darmin menjamin pemerintah membuka akses untuk mengusahakan lahan sosial. "Hanya saja, itu bukan untuk menebang, tapi untuk menanam dan beternak di atas lahan tersebut," tutur Darmin.

Selain itu, Darmin juga menyatakan bahwa pihaknya melakukan kebijakan peremajaan kelapa sawit rakyat, karet rakyat, kelapa rakyat, hingga cokelat rakyat. "Saat ini, ada sekitar 3,7 juta hektar lahan karet. Itu terlalu besar untuk satu jenis tanaman saja, alias pemborosan lahan. Ke depan, kita lakukan peremajaan di mana separuh dari lahan itu tetap untuk karet, separuhnya lagi bisa ditanami tanaman lain seperti kopi atau cokelat," ungkap Darmin lagi.

Era digital

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyebutkan bahwa saat ini merupakan momentum yang tepat bagi koperasi untuk memasuki era digital. "Suka tidak suka, koperasi harus sudah masuk ke era digital. Di Jateng, ada beberapa koperasi bagus yang sudah 100% menetapkan sistem digital dalam sistem kerja dan melayani para anggotanya," kata Ganjar.

Ganjar mencontohkan, BMT Sejahtera (Pekalongan), Koperasi Khairul Umah (Rembang), Koperasi Karika (Wonosobo), dan Koperasi Srikandi (Purworejo). "Itu membuktikan bahwa dengan kekuatan penuh dari anggota, koperasi akan mampu mengembangkan kinerjanya, termasuk di era ekonomi digital," ujar Ganjar.

Ganjar berharap koperasi mampu mengangkat kinerja pelaku usaha mikro dan kecil di seluruh Indonesia. "Sudah banyak produk UKM berkualitas di Jateng yang layak untuk dikembangkan pemasarannya hingga ke pasar global," kata Ganjar.

Terkait kualitas koperasi di Jateng, Ganjar menegaskan bahwa pihaknya tidak main-main dalam membenahi kinerja perkoperasian di wilayahnya. Saat ini, dari jumlah koperasi di Jateng sebanyak 22.422 unit, 3.817 unit di antaranya terdeteksi tidak aktif dan sudah tidak melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Koperasi yang sudah dibubarkan tercatat sebanyak 4.012 unit. 

"Kalau koperasi seperti itu tidak dibubarkan dan dibiarkan tetap hidup maka dikhawatirkan akan mempengaruhi kondisi koperasi yang lainnya," tutur Ganjar.

Sementara itu, Ketum Dekopin Nurdin Halid menegaskan, koperasi saat ini sudah mampu menjelma menjadi unit usaha moderen dengan menerapkan digitalisasi, terutama dalam hal pelayanan terhadap anggota. "Ada Koperasi Telekomunikasi Seluler (Kisel) yang sudah masuk ke jajaran 300 koperasi besar dunia di peringkat 94. Begitu juga dengan Koperasi Warga Semen Gresik (KWSG)," kata Nurdin.

Di era Revolusi Industri 4.0 ini, Nurdin mengajak koperasi sudah menerapkan digitalisasi ekonomi dan sudah melangkah ke pola sharing economy. "Itu untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, momentum perubahan sangat terasa dan cepat. Dunia sekarang tanpa batas lagi. Koperasi harus siap menghadapinya," ujar Nurdin.***

Bagikan: