Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Harga Cabai Melonjak,  Jangan Abai Jaga Produksi

Satrio Widianto
ILUSTRASI.*/ANTARA
ILUSTRASI.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Rusli Abdullah mengatakan, secara umum harga cabai yang naik hingga hampir 100% di beberapa daerah disebabkan oleh kekeringan yang ekstrem. Hal ini mengakibatkan produksi dan suplai cabai menjadi terbatas.

“Itu karena supply-nya yang terbatas karena produksinya yang belum optimal,” kata Rusli Abdullah di Jakarta,  Jumat (12/7/2019). Seperti diketahui, harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional terus melonjak.  Bahkan secara nasional, per Kamis 11 Juli 2019 menyentuh angka Rp 56.380 per kilogram (kg) rata-rata secara nasional.

Kenaikan harga cabai lebih signifikan terjadi di Jakarta, pada 11 Juli 2019 sudah menyentuh angka Rp 70.850 per kilogram.  Penyebab utama hal itu diduga tidak adanya pengaturan produksi penyuluhan untuk penciptaan bibit unggul  terkait penanaman cabai sehingga persoalan berulang karena gagal diantisipasi.

Kementerian kurang optimal

Rusli  menilai, Kementerian Pertanian kurang optimal dalam mendorong penciptaan varietas unggulan yang tahan terhadap perubahan iklim. Padahal, varietas itu dapat ditemukan dengan  misalnya dengan berinovasi pada cara tanam. Permasalahan ini tidak hanya terjadi pada cabai, tetapi juga tanaman-tanaman lain.  “Dia (Kementan.red) lebih kepada bagaimana memproduksi, tapi bagaimana adaptif terhadap perubahan iklim itu kurang optimal di situ,” ujarnya.

Sementara  dari sisi permintaan, Rusli mengatakan, pemerintah harus mulai perlu mendorong supaya masyarakat tidak bergantung lagi pada cabai segar. Hal ini bisa dilakukan dengan membiasakan mengonsumsi cabai bubuk atau sambal olahan. Jadi, produksi cabai yang melimpah pada musim panen dapat terserap menjadi produk yang tahan lama.  “Jadi pemerintah harus  mendorong masyarakat agar mereka lebih bisa adaptif terhadap cabai olahan,” ucapnya.

Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Kudhori melihat naiknya harga komoditas cabai merah yang terjadi saat ini, salah satunya disebabkan oleh minimnya stok cabai yang tidak seimbang dengan permintaan.

Kurangnya ketersediaan cabai merah pun disinyalir disebabkan oleh jumlah produksi cabai dari petani yang kurang maksimal.

Salah satunya karena mengalami kekeringan lahan dan bahkan gagal panen karena kemarau. “Ya ini siklus tahunan. Dan tahun ini kan kalau dibandingkan tahun sebelumnya kekeringan lebih panjang, jadi di daerah-daerah yang selama ini menjadi basis produksi cabai itu ada gangguan,” jelas Kudhori.

Dia mengatakan, fenomena gagal panen atau rusaknya tanaman cabai saat terjadi kemarau panjang atau kekeringan yang berlebih merupakan hal wajar. Fenomena sama pun, Kudhori sebut juga terjadi pada tanaman hortikultura lainnya. 

Kudhori menyimpulkan bahwa para petani seharusnya bisa mengantisipasi datangnya musim kemarau, karena Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah rutin mengumumkan perkiraan iklim per tiga bulan sekali.

Sementara Peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, minimnya produksi cabai juga disebabkan oleh ketakutan para petani untuk menanam cabai di musim kemarau yang berkepanjangan. Galuh menyebutkan, banyak petani tidak berani mulai menanam cabai karena takut mengalami gagal panen.

Galuh berpendapat, pemerintah seharunsya bisa belajar dari kesalahan masa lalu karena siklus ini terjadi tiap tahun. Pola kemarau yang membuat produksi sejumlah komoditas berkurang, menurut Galuh, harusnya bisa diantisipasi pemerintah

Tidak kurang pasokan

Sebaliknya, Kementerian Pertanian (Kementan) menampik adanya kekurangan pasokan cabai merah hingga membuat harga komoditas ini naik. Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Suwandi menegaskan, stok cabai merah cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Khusus Jakarta, Suwandi menyebutkan, pasokan harian ke kota metropolitan ini per harinya mencapai 80 ton dari beberapa kabupaten pemasok di Pulau Jawa.

Namun, dia tidak menampik kalau produksi cabai merah di tingkat petani belum memasuki masa optimal. Saat ini beberapa sentra petani di Jawa baru memasuki panen ketiga, sementara tanaman cabai bisa dipanen antara 16-28 kali dengan masa tanam hingga 5 bulan.  “Nah, ini sudah ada panen pertama kedua dan ketiga tapi kayak grafis belum tumbuh. Nanti awal Agustus udah melimpah,” kata Suwandi.***

Bagikan: