Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Cerah berawan, 29.1 ° C

Petani Pinjam Uang Dulu, Tengkulak pun Menghargai Garam Rp 300/Kilogram

Tim Pikiran Rakyat
FOTO ilustrasi garam.*/DOK. KABAR BANTEN
FOTO ilustrasi garam.*/DOK. KABAR BANTEN

BANDUNG, (PR).- Penelusuran Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) provinsi Jawa Barat terhadap harga garam yang anjlok di kalangan petani diakibatkan ulah tengkulak. Permainan harga oleh tengkulak diduga penyebab petani garam menjerit. 

Kepala Dinskanlut provinsi Jawa Barat, Jafar Ismail mengatakan, dari hasil laporan bahwa perusahaan produsen garam membeli garam dengan harga yang standar yaitu sekitar 1.500 per kilogram, namun petani menjual garamnya mulai dari Rp 300 sampai Rp 700 perkilogram sesuai dengan kualitas. 

"Ini masalahnya ada dari petani yang menjual ke tengkulak, padahal harga eceran terendah garam itu masih di angka Rp 1.000 artinya perusahaan produsen masih membeli harga garam cukup tinggi," kata Jafar Selasa 9 Juli 2019 di Bandung. 

Kemudian informasi lain yang didapat dari Diskanlut bahwa, petani garam sering meminjam uang kepada tengkulak pada saat musim tidak panen. Sehingga pada saat musim panen petani menjual terpaksa ke tengkulak dengan harga yang rendah untuk meringkan beban hutang mereka. 

"Memang perusahaan ini juga sulit untuk masuk langsung membeli garam ke petani, selalu dicegah oleh tengkulak," ujarnya kepada wartawan Galamedia, Anthika Asmara. 

Jafar mengatakan, pihaknya akan mencarikan solusi untuk para petani agar tidak meminjam uang kepada tengkulak dengan harapan harga garam mereka tidak dijual dengan murah kepada tengkulak. 

"Mungkin denga pola pembentukan koperasi yang sehat, sehingga ketika petani butuh uang bisa pinjam melalui koperasi ini. Itu salah satu solusi yang akan ditawarkan oleh kami pada petani garam," ucap dia. 

Sementara itu terkait jumlah produkis garam saat ini cukup melimpah, dari catatan Diskanlut, stok dari tahun 2018 masih ada sekitar 37 ton dan tersimpan di masing-masing gudang penyimpanan dan belum terjual. 

"Kemudian produksi saat ini hingga bulan Juli ada sekitar 2.000 ton , stok garam ini akan bertambah karena memasuki puncak panen di bulan Agustus dan September," tuturnya.

Jafar menambahkan, ada hal yang memang menyebabkan rusaknya harga garam yaitu masuknya garam untuk industri ke pasaran, padahal garam untuk industri itu kualitas terendah. 

"Mungkin karena murah maka dilahap oleh pasaran, padahal itu tidak boleh karena kulitasnya jelek," ujarnya. 

Ke depan menurut jafar, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan untuk mengatur pola pemasaran garam. 

"Memang untuk jalur penjualan itu ranah dinas perdagangan. Kami hanya berwenang pengawasan di tingkat petani," tuturnya.***
 

Bagikan: