Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Sebagian berawan, 21.6 ° C

Efektifkan Penyiraman Gravitasi di Musim Kemarau

Kodar Solihat
KEPALA Satuan Pelayanan Cikadu BBH Riza Faizal menunjukan contoh penyiraman terpadu menggunakan bahan tabung bambu, di Cikadu, Cianjur, Rabu 10 Juli 2019.*/ISTIMEWA
KEPALA Satuan Pelayanan Cikadu BBH Riza Faizal menunjukan contoh penyiraman terpadu menggunakan bahan tabung bambu, di Cikadu, Cianjur, Rabu 10 Juli 2019.*/ISTIMEWA

CIANJUR, (PR).- Sistem pengairan secara hemat namun efektif untuk musim kemarau, diperkenalkan bagi masyarakat yang mengusahakan pertanian terpadu di Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur. Adalah teknik yang disebut “penyiraman gravitasi” dengan menggunakan atau memanfaatkan potensi sekitar, yaitu bambu yang banyak terdapat di sekitar kawasan Kecamatan Cikadu.

Pengenalan teknis penyiraman gravitasi tersebut dilakukan oleh Satuan Pelayanan Cikadu Balai Benih Hortikultura (BBH) Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, di Cikadu, Cianjur, Rabu 10 Juli 2019. Dilakukan percontohan terhadap 400 tanaman, untuk ditiru oleh masyarakat setempat, untuk mengairi berbagai tanaman yang diusahakan secara pertanian terpadu atau pun agroforestry di Kecamatan Cikadu. 

Kepala Satuan Pelayanan Cikadu BBH, Riza Faizal, memperlihatkan dimana sistem penyiraman gravitasi itu, prinsipnya sama dengan penyiraman tetes. Namun penyiraman gravitasi terpadu menggunakan bambu ini, merupakan solusi bagi masyarakat yang berada di pelosok yang sangat jarang diperoleh botol-botol plastik atau selang air untuk melakukan penyiraman atau pengairan tetes.

Diketahui, bahwa pengairan secara tetes termasuk sistem gravitasi ini, merupakan cara pengairan tanaman secara hemat namun dapat kontinyu. Sistem ini dapat membantu masyarakat petani, agar menghemat pula tenaganya dalam mengambil air dari sumbernya. 

Ditunjukan pula, bahwa tabung-tabung bambu yang dipotong batangan bambu itu, memiliki kapasitas 2 liter air cukup untuk mengairi tanaman selama 50 menit. Pengenalan sistem penyiraman gravitasi itu, dilakukan di lapangan praktik di areal BBH Cikadu, yang kemudian dapat ditiru dan diaplikasikan oleh masyarakat untuk masing-masing tanamannya. 

Disebutkan pula oleh Riza Faizal, bahwa faktor pengairan yang harus kontinyu bagi berbagai tanaman di Kecamatan Cikadu, juga dimaksudkan untuk menjaga kelestarian alam Kecamatan Cikadu melalui usaha pertanian terpadu. Masyarakat setempat dapat memperoleh manfaat ekonomi, melalui hasil produksi pertanian terpadu, seperti buah-buahan, gula aren, kayu-kayuan, dll, dan dicoba untuk dikembangkan ke wisata alam dengan pola homestay melalui tempat tinggal masyarakat setempat.

“Prinsipnya, kawasan Cikadu diharapkan menjadi kawasan alam yang lestari namun produktif menghasilkan perekonomian yang handal bagi masyarakat setempat. Salah satu upaya ke arah itu, adalah mencoba membuat sejumlah komoditas yang ditanam masyarakat selamat dari resiko kekeringan pada musim kemarau, melalui sistem penyiraman gravitasi ini yang biayanya murah melalui pemanfaatan potensi sekitar,” ujar Riza Faizal.***

Bagikan: