Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Cerah berawan, 27.3 ° C

Harga Anjlok, Petani Susah Jual Garam

Tim Pikiran Rakyat
PETANI sedang memanen garam di tambak di Desa Domas, Kecamatan Pontang, Senin  8 Juli 2019.*/ISTIMEWA
PETANI sedang memanen garam di tambak di Desa Domas, Kecamatan Pontang, Senin 8 Juli 2019.*/ISTIMEWA

SERANG,(PR).- Harga jual garam di wilayah Kabupaten Serang saat ini mengalami penurunan sangat drastis dari Rp 1.000 - 2.000 per kilogram menjadi Rp 400 per kilogram. Akibatnya petani garam pun mengalami kerugian akibat sulit memasarkan garam tersebut.

Petani garam asal Desa Domas Kecamatan Pontang Amrullah mengatakan, sejak lebaran harga jual garam turun drastis di angka Rp 400 per kilogram. Bahkan dengan harga sekecil itu pun para petani masih kesulitan untuk menjual garamnya akibat ditolak oleh industri. “Industri beralasan masih banyak stok. Jauh harganya, tahun kemarin kita di atas Rp 2.500-3.000 per kilogram. Kalau normal itu Rp 1.000 – 2.000 per kilogram,” ujarnya kepada wartawan Kabar Banten, Dindin Hasanudin, Senin 8 Juli 2019.

Amrullah mengatakan, akibat rendahnya harga jual garam itu, petani kini tidak bisa menjual garamnya. Padahal, di akhir bulan Juli ini para petani garam akan memasuki masa panen raya. “Tapi garam tahun kemarin saja sekitar 30 ton belum terjual. Ya karena stok (garam) industri masih banyak. Sebenarnya sudah jadi rahasia umum, ini karena impor tahun kemarin tinggi, dampaknya baru sekarang,” tuturnya.

Ia menuturkan, dengan harga serendah itu, tentu saja petani jadi merugi karena tidak bisa menutupi biaya produksi. Padahal hasil panen per hektar bisa mencapai 100 ton, dirinya sendiri memiliki luasan lahan 3,5 hektar. Dengan demikian, panen kali ini dirinya bisa menghasilkan garam sekitar 350 ton. “Tahun ini saya buka lagi padahal (lahan garam). Di sekitar saya saja ada 15 petani garam, kalau yang lainnya banyak,” katanya.

Dirinya mengaku bingung dengan kondisi tersebut. Akan tetapi tidak ada pilihan lain selain tetap menjual garam dengan harga rendah. Walau demikian, pihaknya masih akan bertahan sambil menunggu kebijakan pemerintah yang lebih berpihak kepada petani. “Masa simpan garam itu lama, garam sendiri pengawet jadi bertahun tahun juga (bisa), ruginya itu kita susut. Kualitas enggak pengaruh malah makin bagus,” ucapnya.

Amrullah berharap, pertama ke depan impor bisa distop. Selama ini importir beralasan garam lokal berkualitas jelek, padahal kualitas garam lokal tidak kalah saing. Kedua, pemerintah kabupaten atau provinsi diharapkan memiliki kebijakan yang berpihak pada petani. Terlebih di Banten banyak industri, jika diakomodir melalui kebijakan, perusahaan yang ada di Banten harus menggunakan garam lokal. “Jadi harapnnya dua itu, jadi lebih terjamin untuk pembelian garam dan enggak susah lagi,” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Serang Sarjudin mengatakan, anjloknya harga garam ini dikarenakan adanya impor. Kebijakan impor sendiri ada di pemerintah pusat. “Itu kebijakan pusat, kita enggak bisa berkutik,” ujarnya.

Namun kata dia, perlu ditanyakan kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengapa impor bisa membeludak. Dalam hal ini, yang menjadi masalah bukan hanya garam, namun besi baja hingga padi mengalami hal serupa. “Semenjak impor melimpah dari luar negeri (harga anjlok), kasihan petani baik petani garam, padi. Ketika panen, ada impor, makanya harga anjlok,” tuturnya.

Disinggung soal petani yang kecewa dengan produksi garam, Sarjudin mengatakan masalah pergaraman ini sudah masuk masalah nasional bukan hanya di Kabupaten Serang. “Kita baru kembangkan, dan punya nilai tambah, ternyata ketika panen harga garam anjlok tidak sesuai harapan,” katanya.***  
 

Bagikan: