Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 16.3 ° C

Sudah Ada Koperasi yang Dibubarkan karena Tidak Aktif

Ai Rika Rachmawati
ILUSTRASI.*/DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI.*/DOK. PIKIRAN RAKYAT

BANDUNG, (PR).- Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Jawa Barat (Jabar) meminta agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar menyiapkan pendamping untuk meningkatkan kualitas koperasi. Setiap kabupaten/kota membutuhkan sedikitnya 10 orang pendamping koperasi.

Demikian diungkapkan Ketua Dekopinwil Jabar, Mustopa Djamaludin, pada Penutupan Pendidikan dan Pelatihan Koperasi di Hotel Bumi Kitri Pramuka, Jln. Cikutra, Bandung, Jumat (5/7/2019). Ia mengatakan, kebutuhan pendamping koperasi sangat mendesak.

"Ada sejumlah permasalahan koperasi yang harus segera diselesaikan jika Jabar ingin menjadi juara di sektor ini," ujar Mustopa.

Salah satunya, menurut dia, adalah peningkatan jumlah koperasi tidak aktif, sekitar 2,5%-3% per tahun. Peningkatan jumlah koperasi tidak aktif tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan penambahan koperasi baru. 

Ia memperkirakan, koperasi di Jabar hanya tumbuh sekitar 0,5% per tahun. Jumlah koperasi Jabar sendiri saat ini sekitar 23.000 dan yang aktif diperkirakan sebanyak 15.000 unit.

"Sebelumnya kan 25.000. Sudah ada yang dibubarkan dan saat ini tinggal 23.000," katanya.

Dari seluruh koperasi yang tersisa, menurut dia, belum semuanya menggelar rapat anggota tahunan (RAT). Kendati sudah digelar program reformasi total koperasi yang digelar Kemeterian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), namun kesadaran koperasi untuk menggelar RAT juga ia nilai masih rendah.

"Peningkatan jumlah koperasi yang menggelar RAT dengan digelarnya program reformasi total koperasi juga tidak terlalu menggembirakan. Peningkatannya hanya sekitar 3%-4%. Seharusnya minimal 10%," tuturnya.

Rutin RAT

Urgensi keberadaan pendamping koperasi, menurut dia, adalah untuk mendorong koperasi Jabar menjalankan fungsinya dengan baik, termasuk rutin menggelar RAT. Dengan demikian, koperasi Jabar akan lebih unggul dan sehat.

Pentingnya keberadaan pendamping koperasi, menurut dia, juga adalah untuk membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) koperasi dan memodernkan koperasi. Salah satu kendala untuk modernisasi koperasi, menurut dia, adalah SDM.

"SDM koperasi umumnya sudah berusia di atas 40 tahun ke atas, sehingga tidak akrab dengan perkembangan teknologi informasi. Oleh karena itu, diperlukan pendamping yang bisa membumbing koperasi untuk mengimplementasikan teknologi informasi," ujarnya.

Dengan upaya tersebut, Dekopinwil Jabar menargetkan agar ke depan koperasi di Jabar akan tampil sebagai koperasi unggul dengan mengoptimalkan potensi daerah. Koperasi Jabar juga ditargetkan untuk kembali menjadi penggerak kekuatan ekonomi rakyat.

"Kami sudah menyaring 40 dari 270 koperasi unggulan Jabar. Ke-40 koperasi ini diharapkan akan menjadi embrio koperasi berkualitas yang akan menjadi magnet bagi koperasi lainnya," kata Mustopa.

Ia mengaku optimistis, kolaborasi antara 40 koperasi dan pendamping koperasi yang baik akan mampu menghasilkan output koperasi yang berkualitas. "Target kita adalah menciptakan koperasi yang unggul dan juara lahir batin," tuturnya.

Saat menutup kegiatan tersebut, Wakil Gubernur Jabar, Uu Ruzhanul Ulum, juga mengaku berharap, ke depan koperasi Jabar akan tumbuh semakin besar. Ia juga mengaku berharap agar ke depan loperasi bisa terus meningkatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, baik swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Banyak yang bisa dikerjasamakan antara koperasi dengan BUMN, seperti Bulog, Pertamina, PLN, dll. Kolaborasi koperasi dan lembaga lain sangat diperlukan untuk memperkuat peran dan fungsi koperasi," tuturnya.***

Bagikan: