Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 25.9 ° C

YIA Permudah Pergerakan Turis ke Joglosemar

Satrio Widianto
FOTO ilustrasi Yogyakarta International Airport (NYIA).*/DOK. PR
FOTO ilustrasi Yogyakarta International Airport (NYIA).*/DOK. PR

YOGYAKARTA, (PR).- Berdirinya sejumlah bandara baru diharapkan menjadi pusat pertumbuhan. Bandara baru yang pada awalnya sepi memerlukan waktu agar bisa berfungsi dan berperan. Seperti bandara baru Yogyakarta International Airport (YIA) Kulon Progo yang saat ini baru ada 10 pergerakan sejak dioperasikan Mei lalu, cepat lambat dapat menjadi bandara dengan frekuensi tinggi.

Hal itu terungkap dalam Lokakarya Wartawan Kementerian Perhubungan di Bandara Internasional Yogyakarta, Jumat  5 Juli 2019. Hadir sebagai pembicara Sekretaris Ditjen Perhubungan Udara Nur Isnin Istiartono, Dirut PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi, Dirut Airnav Indonesia Novie Riyanto, Direktur Angkutan dan Lalu Lintas Ditjen Perkeretaapian Kemenhub, Danto serta General Manager Bandara YIA, Agus Pandu Purnomo.

Novie mengatakan, saat ini potensi pergerakan pesawat udara di Bandara YIA bisa dimaksimalkan menjadi 30 pergerakan perjam dari yang ada 10 pergerakan per jam. "Kita harapkan ke depan traffik juga bisa lebih banyak seiring dengan selesainya 100%, infrastruktur bandara ini,” ungkapnya. 

Menurut Novie, pemindahan penerbangan dari Bandara Adisucipto di Yogyakarta ke Bandara YIA di Kulon Progo dilakukan secara bertahap. "Saat ini di Bandara Adisucipto ada 188 pergerakan pesawat dan ratusan pergerakan pesawat militer, bisa 120-130. Di bandara YIA baru maskapai Batik Air dan Citilink," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pemerintah optimistis kawasan Jogjakarta, Solo serta Semarang (Joglosemar) bakal jadi menjadi primadona baru mendatangkan wisatawan manca negara. Optimisme ini tak lepas dari pengoperasian Bandara Internasional Yogyakarta (Yogyakarta International Airport/YIA) di Kulon Progo, Yogyakarta ditunjang dengan peningkatan kapasitas dua bandara lain, yakni Adi Soemarmo (Solo) dan Ahmad Yani (Semarang). 

Dikatakan, penambahan kapasitas tiga bandara tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan pergerakan pesawat dan penumpang dari dan ke Wilayah Joglosemar. “Saya mengharapkan strategi transportasi yang sudah terencana ini dapat berjalan baik sehingga mendorong pertumbuhan kemajuan wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang pada akhirnya pertumbuhan ekonomi di wilayah Yogyakarta, Solo dan Semarang dapat berkembang pesat,” ucap Menhub seperti disampaikan Dirjen Perhubungam Udara Polana B. Pramesti.

Menurut dia, dalam rangka mewujudkan hal tersebut, Pemerintah Pusat memerlukan dukungan dari stakeholder dan pihak terkait lainnya seperti Pemerintah Daerah, BUMN dan Swasta.  “Oleh karenanya saya mengharapkan Pemerintah Daerah, BUMN dan Swasta dapat mendukung rencana strategi kami untuk meningkatkan konektivitas di wilayah (Yogyakarta, Solo dan Semarang),” ujarnya. 

Percaya diri

PT Angkasa Pura I (Persero) percaya diri bisa memberikan dampak positif di daerah Kulonprogo dari pengoperasian Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Direktur Utama PT AP I Faik Fahmi menyebutkan, meski belum 100% beroperasi Bandara YIA akan menampung sebanyak 14 juta penumpang pada penyelesaian bandara ini di akhir tahun 2019. 

“Ini baru 65%, untuk 100%-nya nanti akan selesai di Desember 2019. Kalau dari sisi kapasitas jika sudah selesai 100% bisa menampung sebanyak 14 juta penumpang, “ ujar Faik, memaparkan perkembangan Bandara YIA.

Pengoperasian Bandara YIA masih berjalan temporari namun sudah disesuaikan berdasarkan kebutuhan penerbangan.  “Saya kira penyelesaian YIA ini menjadi bandara yang pembangunannya tercepat di dunia mungkin, hanya dalam waktu satu tahun lebih sedikit sudah bisa diselesaikan, ucapnya. 

Faik menambahkan bahwa AP I memiliki tiga peran penting strategis. Pertama, sebagai korporasi negara yang memang harus bisa mendapatkan laba memberikan dividen. “Tapi ada tugas lain yang lebih penting juga sebagai infrastruktur negara. Di sini peran strategis kita, bagaimana pertumbuhan ekonomi indonesia itu bisa dipacu dengan pengembangan konektivitas udara,” ungkapnya. 

Selain sebagai korporasi negara, peran AP I juga sebagai agent of Development diharapkan bisa memberi manfaat bagi masyarakat banyak. PT AP I juga saat ini sedang mengatasi lack of capacity dengan terus meningkatkan kapasitas penumpang di bandara Semarang, Solo maupun Yogyakarta. 

“Di Bandara Ahmad Yani Semarang misalnya, kita sudah bisa menyelesaikan yang dulu kapasitas setahunnya hanya bisa menampung 0,8 atau 800 ribu setahun sekarang bisa 6 juta setahun. Terminal baru yang sudah kita selesaikan tingkat pertumbuhan traffic maupun tingkay reveneunya paling tinggi dibanding bandara yang lain,” urai Faik. 

Sedangkan untuk Bandara Adi Soemarmo,  Solo kapasitas juga telah ditingkatkan dari 1,5 juta penumpang menjadi 3 juta penumpang per tahun. Adapun untuk YIA Kulonprogi ditargetkan bisa selesai akhir tahun dengan kapasitas 14 juta penumpang per tahun. 

“Tahun 2015 dan tahun 2016 target pertumbuhan ekonomi di kulonprogo itu 5,4%, dan itupun tidak tercapai. Tapi di tahun 2019 sampai dengan april, pertumbuhan ekonomi di kulonprogo sudah 10,6%, ini naiknya sangat signifikan padahal bandara belum selesai dioperasikan. Bayangkan kalau sudah operasi 100% pasti dampaknya akan besar terhadap ekonomi daerah,” pungkasnya.***

Bagikan: