Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Umumnya berawan, 20.6 ° C

Panen Jagung di Jawa Barat Upaya Mengurangi Impor

Kodar Solihat

KEPALA Dinas Tanaman Pangan dan Hortikiltura Provinsi Jawa Barat, Hendy Jatnika, menandai gerakan panen jagung di Jawa Barat tahun 2019, dilakukan di Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta.*/DOK. DISTAMPANGKUL JABAR
KEPALA Dinas Tanaman Pangan dan Hortikiltura Provinsi Jawa Barat, Hendy Jatnika, menandai gerakan panen jagung di Jawa Barat tahun 2019, dilakukan di Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta.*/DOK. DISTAMPANGKUL JABAR

PURWAKARTA, (PR).- Masa panenan jagung hibrida tahun 2019 mulai dilakukan, dimana pembudidayaanya dilakukan pada lahan masyarakat maupun kemitraan dengan perusahaan perkebunan. Gerakan panen jagung tersebut dimulai di Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Rabu 18 Juni 2019. 

Produksi jagung di Jawa Barat termasuk usaha pertanian serupa di Indonesia, untuk mendukung kepentingan pangan. Produksi jagung hibrida diketahui juga berperan vital, untuk industri pangan dan pakan ternak yang setiap tahun terus meningkat, seiring terus bertambahnya jumlah penduduk, serta upaya rutin pada setiap pemerintahan untuk mengurangi ketergantungan impor. 

Informasi dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, pada tahun 2019 ini, produksi jagung difokuskan melalui cara tumpangsari terdiri kombinasi jagung-kedelai dan jagung padi, juga ada yang secara monokultur. Salah satu sentra produksi jagung tersebut adalah di Kabupaten Purwakarta, di antaranya juga dilakukan secara kemitraan pada lahan perkebunan negara PT Perkebunan Nusantara VIII.

Adapun gerakan panen jagung di Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, dipimpin Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Hendy Jatnika, serta Dinas Pertanian Kabupaten  Purwakarta. 

Menurut Hendy Jatnika, produksi jagung di Jawa Barat tahun 2019 ini mengalami perluasan areal penanaman, termasuk dengan cara pembudidayaan secara kemitraan pada sejumlah areal perkebunan. 

Pada tahun 2019 ini, kata Hendy Jatnika, di Jawa Barat mendapat alokasi pengembangan budidaya jagung seluas 113.671 hektare, terdiri tumpangsari 63.000 hektare dan monokuktur 50.671 hektare, dimana  Purwakarta untuk tumpangsari seluas 185 hektare dan monokultur 440 hektare. 

Terkait produktitivitas panen jagung, disebutkan Hendy Jatnika, Jawa Barat dengan mengacu data angka tetap pencapaian produktivitas tahun 2017, masih tertinggi secara nasional yaitu  80,37 kwintal/hektare. Ada pun produktivitas jagung nasional, rata-ratanya masih 52,27 kwintal/hektare. 

"Akan tetapi, sesyai program nasipnal yaitu swasembada jagung nasional, produksi jagung di Jawa Barat masih harus ditingkatkan, baik perluasan areal tanam, peningkatan intensitas penaman, dan peningkatan produktivitas. Cara ya dengan menggunaan benih hibrida, penerapan teknologi, pengamanan dari organisme pengganggu tanaman, alat dan mesin pertanian, kemitraan, untuk membuka peluang pasar, dll," ujar Hendy Jatnika.***

Bagikan: