Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Sebagian berawan, 24.9 ° C

Kinerja Industri Kimia Meningkat

Tim Pikiran Rakyat
PJS KPW BI Banten Erry P Suryanto dan Kepala OJK Regional 1 DKI Jakarta dan Banten didampingi Direktur Manajemen Strategis, EPK dan Kemitraan Pemerintah Daerah Duma Riana sebagai narasumber dalam acara konferensi pers, Rabu 19 Juni 2019.*/RIZKI PUTRI/KABAR BANTEN
PJS KPW BI Banten Erry P Suryanto dan Kepala OJK Regional 1 DKI Jakarta dan Banten didampingi Direktur Manajemen Strategis, EPK dan Kemitraan Pemerintah Daerah Duma Riana sebagai narasumber dalam acara konferensi pers, Rabu 19 Juni 2019.*/RIZKI PUTRI/KABAR BANTEN

SERANG, (PR).- Pertumbuhan ekonomi di Banten pada triwulan I 2019 lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2018. Namun lebih tinggi dari pertumbuhan nasional. Di regional Jawa, pertumbuhan Banten berada di posisi kelima setelah DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Timur (Jatim), dan Jawa Barat (Jabar).

Pada triwulan I 2019 pertumbuhan ekonomi di Banten sebesar 5,42 persen. Sedangkan pada triwulan IV 2018 sebesar 5,98 persen. Dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi Banten, pada triwulan I 2019 sebesar Rp 159,83 triliun, dan triwulan IV 2018 sebesar Rp 159,87 triliun.

"Pangsa PDRB Banten secara nasional sebesar 4,15 persen. Sedangkan di Jawa sebesar 7,0 persen. Banten itu berada di peringkat kedua setelah DKI Jakarta. Dengan," kata Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Kantor Perwakilam Wilayah (KPW) Bank Indonesia (BI) Banten Erry P Suryanto, pada acara konferensi pers laporan perekonomian Provinsi Banten Periode Mei 2019, Rabu 19 Juni 2019.

Ia juga mengatakan, kalau kesenjangan penduduk di Banten masih berada jauh dibawah dalam skala nasional. Namun berada di peringkat kedua setelah DKI Jakarta. "Apalagi untuk di wilayah Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang, kesenjangannya masih minim dibandingkan wilayah lainnya yang ada di Banten," katanya.

Dalam pemaparannya, ia juga menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten triwulan I 2019 didorong oleh industri pengolahan, perdagangan, konstruksi dan real estate, dari sisi penawaran. Sementara dari sisi pengeluaran, ini didukung oleh ekspor netto yang tumbuh lebih tinggi. Namun pertumbuhan Banten lebih rendah dari periode sebelumnya akibat cukup dalamnya perlambatan Lapangan Usaha (LU) transportasi dan LU pertanian.

"Pertumbuhan ekonomi di Banten pada triwulan I 2019 didorong oleh masih cukup tingginya konsumsi masyarakat pada momen libur awal tahun dan Imlek serta investasi proyek-proyek strategis nasional dan swasta meskipun tumbuh lebih rendah dibandingkan periode triwulan sebelumnya," ujarnya.

Ekspor tinggi

Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi utamanya didorong oleh industri pengolahan seiring pertumbuhan konsumsi Rumah Tangga (RT) dan pemerintah. Kemudian, industri baja juga mencatatkan pertumbuhan penjualan ekspor yang cukup tinggi, meskipun lebih rendah sebelumnya. Sementara, kinerja industri kimia meningkat didorong oleh permintaan domestik dan membaiknya ekspor meskipun masih mengalami kontraksi.

"Tapi yang paling tinggi dalam hal ini tingkat konsumsi Rumah Tangga masih menduduki yang paling tinggi dibandingkan dengan tingkat konsumsi yang lainnya. Apalagi pada momen bulan puasa dan lebaran," ucapnya kepada wartawan Kabar Banten, Rizki Putri. 

Sementara Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 1 Perwakilan Jakarta-Banten Ahmad Berlian mengatakan, perkembangan sektor jasa keuangan OJK secara nasional, stabilitas dan likuiditas selama triwulan I 2019 dalam kondisi terjaga. Ini juga sejalan dengan penguatan kinerja intermediasi dan perbaikan profil risiko lembaga jasa keuangan.

Kemudian, pada Q1-2019, pertumbuhan kredit perbankan masih melanjutkan pertumbuhan "double digit" sebesar 11,55 persen year on year (yoy). Angka ini meningkat dibandingkan Q1-2018, yakni hanya sebesar 8,54 persen yoy.

Peningkatan itu, kata Ahmad Berlian didukung oleh Kredit Investasi (KI) yang tumbuh sebesar 13,57 persen yoy. Tren peningkatan KI ini terjadi sejak awal 2018 yang hanya tumbuh sebesar 3,77 persen. Pertumbuhan penyaluran kredit tersebut terutama terjadi pada kredit kontruksi dan kredit pertambangan. 

"Pertumbuhan penyaluran kredit tersebut terutama terjadi pada kredit konsumsi dan kredit pertambangan. Kemudian pembangunan infrastruktur yang saat ini menjadi prioritas utama pemerintah menjadi pendorong tumbuhnya KI secara signifikan," katanya.***

Bagikan: