Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Cerah berkabut, 25.1 ° C

Okupansi Hotel di Jawa Barat Terus Menurun

Yulistyne Kasumaningrum
ILUSTRASI hotel.*/CANVA
ILUSTRASI hotel.*/CANVA

BANDUNG (PR).- Okupansi hotel di Jawa Barat terus mengalami tekanan. Kondisi tersebut di antaranya tercermin dari angka Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel sepanjang Januari-April 2019 yang bergerak turun dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, rata-rata TPK hotel di Jabar pada Januari-April 2019 mencapai 49,38%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan catatan pada periode yang sama 2018 yang mencapai 52,58%.

Penurunan TPK hotel di Jabar pada Januari-April 2019 tersebut dikarenakan turunnya TPK hotel berbintang, dari tahun 2018 sebesar 57,10% menjadi 52,8%. TPK hotel berbintang itu juga lebih rendah dibandingkan 2016 (53,01%) dan 2017 (55,5%) pada periode yang sama. Penurunan lebih dalam TPK di Jabar sedikit tertahan karena meningkatnya TPK hotel nonbintang menjadi 34,92% dari sebelumnya 39,32% pada 2018.

Kepala BPS Jabar, Dody Herlando, menuturkan, perkembangan okupansi hotel di Jabar tersebut menjadi perhatian pihaknya. Diharapkan, penurunan yang terjadi hanya bersifat sementara dan tidak terus terjadi hingga akhir tahun mendatang.

“TPK hotel di Jabar makin ke bawah, angkanya selalu di bawah tahun sebelumnya. Jangan sampai ini persisten sampai Desember,” katanya di Bandung, belum lama ini.

Jabar sebagai daerah tujuan wisata, dikatakan Dody, sebetulnya memiliki kekuatan untuk mendorong naiknya okupansi hotel. Sehingga, penurunan yang terjadi harus ditemukan penyebabnya dan jawaban atas permasalahan yang terjadi.

Hotel nonbintang semakin tertekan karena persaingan dan kondisi ekonomi

ILUSTRASI hotel.*/CANVA

Dody juga menyoroti tentang angka TPK hotel nonbintang. Berdasarkan data BPS, TPK hotel non bintang sepanjang 2016 dan 2017 pada bulan tertentu masih bisa menembus angka 40%. Namun, kondisi tersebut tidak lagi terlihat sejak Januari 2018 yang menunjukkan TPK tertinggi ada di angka 36,72%, yaitu pada Januari 2019.

Bahkan, TPK Hotel nonbintang sempat menyentuh angka terendah 29,74% pada Mei 2018. Secara rata-rata selama Januari-Desember, TPK Hotel nonbintang di Jabar pada 2015 mencapai 35,38%, kemudian meningkat menjadi 37,26% pada 2016 dan 41,75% pada 2017.

Akan tetapi, pada 2018 TPK Hotel nonbintang anjlok ke angka 31,28%. “Perlu ada perhatian untuk hotel nonbintang bagaimana strategi untuk meningkatkan TPK yang ada,” ucapnya.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Jabar, Herman Muchtar, mengatakan, penurunan okupansi hotel secara nasional berada di kisaran 30-40%. Kondisi tersebut terjadi karena dipengaruhi kondisi bisnis di dalam negeri yang masih berat, penurunan kunjungan wisatawan mancanegara, serta naiknya harga tiket pesawat yang menyebabkan mobilitas wisatawan anjlok.

“Jika dibandingkan, tarif hotel itu turun maka mestinya turis melimpah, tapi kenyataannya tidak. Ditambah bisnis saat ini agak susah sehingga berdampak pada okupansi hotel,” katanya.

Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Herman menuturkan, okupasi yang paling baik selama beberapa waktu terakhir terjadi pada 2014 lalu. Raihan positif kala itu kemudian mendorong banyak pihak berlomba-lomba membangun hotel dan homestay. Hal itu menyebakan persaingan semakin ketat.

“Di Bandung, pertumbuhan hotel begitu banyak, homestay juga. Hal ini memberikan tekanan. Sedangkan untuk hotel nonbintang, saat ini tempat kost, homestay, dan apartemen disewakan hingga semakin memberikan tekanan ke hotel nonbintang,” ujar Herman.***

Bagikan: