Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 20.2 ° C

Penguburan Satu Ton Bangkai Nila Butuhkan Alat Berat

Wilujeng Kharisma

PETAMBAK di Laguna Trisik Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo, DIY merugi puluhan juta rupiah karena jutaan ekor ikan nila yang beratnya lebih dari satu ton mati mendadak.*/WILUJENG KHARISMA/PR
PETAMBAK di Laguna Trisik Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo, DIY merugi puluhan juta rupiah karena jutaan ekor ikan nila yang beratnya lebih dari satu ton mati mendadak.*/WILUJENG KHARISMA/PR

KULONPROGO, (PR).- Petambak di Laguna Trisik Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo, DIY merugi puluhan juta rupiah karena jutaan ekor ikan nila yang beratnya lebih dari satu ton mati mendadak.  Para petambak belum tahu apa penyebab matinya ikan-ikan tersebut.

Anggota Kelompok Bandeng Jaya Trisik, Ngadisan (54) mengungkapkan, sejak tiga hari lalu atau Jumat 7 Juni 2019, diketahui banyak ikan nila mati mengambang ke permukaan air. Anggota kelompok yang membudidayakan nila tersebut tidak mengetahui penyebab kematian ikan-ikan nila yang diperkirakan jumlahnya mencapai jutaan ekor tersebut.

“Jumlah ikan yang mati pada dua hari berikutnya, Sabtu dan Minggu (8-9/6) terus bertambah. Bahkan ada beberapa jenis ikan liar yang tidak dibudidayakan juga ikut mati,” katanya, Rabu 12 Juni 2019.

Ngadisan mengatakan, sebagian permukaan perairan laguna kini menjadi tumpukan bangkai ikan mengambang yang membusuk dikerumuni lalat dan menimbulkan bau menyengat. "Entah berapa ekor atau berapa ton jumlah ikan yang mati. Yang jelas sangat banyak. Sebagian besar ikan sudah waktunya untuk dipanen. Tahun lalu juga banyak ikan nila yang mati, namun tidak sebanyak musim kemarau kali ini," ucapnya.

Ngadisan menuturkan, setelah kelompok tidak lagi membudidayakan bandeng, ikan tersebut menjadi sumber pendapatan kelompok. Menurutnya, dari hasil panenan dalam waktu satu tahun bisa memberikan pendapatan kelompok lebih dari Rp 50 juta. Beberapa tahun terakhir, ikan mati hampir terjadi setiap tahun. "Enam bulan sebelumnya sempat panenan, memberikan pendapatkan kelompok sekitar Rp 6 juta," tuturnya.

Ketua Kelompok Bandeng Jaya Supoyo mengatakan kematian ikan ini lebih dikarenakan faktor alam. Saat musim kemarau, volume air di laguna seluas dua hektare itu menyusut. Ditambah, suhu air menjadi panas, sehingga ikan dipastikan mati.

Dibandingkan tahun ini, lanjutnya, jumlah kematian ikan jauh lebih banyak pada 2018 lalu. Total berat ikan yang mati pada tahun itu mencapai tiga ton.

"Kematian hanya terjadi pada ikan dewasa. Sementara untuk anak-anak ikan masih hidup dan dalam jangka waktu beberapa bulan ke depan akan tumbuh besar untuk kemudian dipanen," katanya.

Membusuk

Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Kulonprogo Sugiharto mengatakan, setelah menerima laporan dari masyarakat, pihaknya melakukan pengecekan ke lapangan.

Menurutnya, ikan yang mati meliputi ikan nila, betik, keting dan beberapa jenis ikan liar lainnya. DKP Kulonprogo bersama kelompok nelayan pembudidaya ikan sedang mengusahakan alat berat untuk mengubur bangkai ikan yang membusuk.

"Belum diketahui pasti penyebab kematian ikan di Laguna Trisik. Ikan yang mati lebih dari satu ton. Telah diambil sampelnya untuk mengetahui penyebab kematian jutaan ikan tersebut," ujarnya.

Sugiharto mengatakan bangkai ikan dikubur di pinggir laguna, alat berat membuat lubang-lubang kemudian ikan dimasukan dan ditutup dengan pasir."Penguburan bangkai ikan ini kemungkinan tidak sampai satu hari karena dimulai sejak 08.00 WIB," katanya.

Menurutnya, penguburan bangkai ikan ini bertujuan supaya tidak mengganggu kesehatan masyarakat dan mengurangi bau busuk bangkai ikan."Bangkai ikan juga bisa mengundang lalat. Lalat dapat terbang ke luar, sehingga dikhawatirkan menyebabkan diare dan menyebabkan berbagai penyakit lainnya," ujarnya.

Sigiharto mengatakan total kerugian yang ditanggung nelayan pembudidaya nila sekitar dua ton. Satu kilogram nila ukuran kecil Rp 13 ribu, sehingga kerugian perkirakan sekitar Rp 26 juta. "Ikan nila yang mati masih kecil, sehingga kerugiannya tidak terlalu besar," katanya.

Setelah proses ini rampung, pihaknya akan berkomunikasi dengan para petambak untuk mencari solusi ihwal pengelolaan limbah tambak yang diduga mencemari laguna. Kemungkinan aktivitas pembuangan limbah bakal diberhentikan sementara waktu hingga air di laguna kembali bersih.

"Nanti akan kami komunikasikan, apakah pembuangan limbah akan sementara dihentikan atau tidak. Sebab tambak juga perlu membersihkan kolam dengan cara membuang limbah demi kesehatan udang," ucapnya.

Sejauh ini DKP masih sebatas mengimbau kepada para petambak agar tidak membuang limbah ke laguna. Petambak juga diminta membuat bak khusus penampung limbah. "Sebelum dibuang harus diolah dulu di dalam bak. Biar airnya netral dan tidak mencemari Laguna," tuturnya.

Kasi Kesehatan Ikan dan Lingkungan DKP Kulonprogo Siti Khoiriyah menambahkan, pihaknya juga sudah mengambil sampel air laguna untuk mengukur derajat keasaman atau pH air. Penyebab kematian ikan itu diperkirakan akibat derajat pH air melebihi kadar normal 7. 

"Jika kadar pH air mencapai 9,33 bisa menyebabkan ikan mati. Dengan kadar pH di atas normal, ikan dan biota lain akan mati, tidak mampu bertahan hidup," tuturnya.***
 

Bagikan: