Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 19.1 ° C

Maskapai Gunakan Batas Bawah, Masyarakat Berpikir Naik Pesawat Itu Murah

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI maskapai penerbangan.*/DOK. KABAR BANTEN
ILUSTRASI maskapai penerbangan.*/DOK. KABAR BANTEN

JAKARTA, (PR).- Pernyataan Presiden Joko Widodo yang berinisiatif mengundang maskapai asing untuk beroperasi di sektor penerbangan Indonesia guna menurunkan harga tiket pesawat domestik yang melambung tinggi, ditengarai tidak akan efektif.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno kepada VOA mengatakan polemik mahalnya harga tiket pesawat domestik baru-baru ini, sebenarnya karena maskapai penerbangan nasional terlalu lama menggunakan tarif batas bawah atau perang tarif demi menggaet jumlah penumpang yang banyak. Namun langkah tersebut ternyata membuat maskapai itu merugi karena modal yang terus tergerus, sehingga maskapai tersebut kembali menggunakan tarif batas atas mereka.

“Enggak efektif, buktinya yang gak bisa menurunkan harga itu bukan asing atau tidak asing, karena operasional penerbangan itu mahal. Kenapa dulu murah, karena maskapainya seperti Air Asia dulu ya mungkin pakai tarif batas bawah. Lama-lama dia gak kuat juga. Sekarang balik ke tarif batas atas, dan masyarakat sudah terkonotasi dalam pikirannya bahwa pesawat tuh bisa murah, karena dulu ada slogan semua orang bisa terbang, ya terbang saja melayang abis itu kalau jatuh gimana?," ungkap Djoko.

Oleh karena itu ia menilai kalau pun mengundang maskapai asing bukan jaminan bahwa nantinya harga tiket pesawat domestik akan turun. Menurutnya pemerintah sebaiknya memperbaiki sarana transportasi lainnya agar masyarakat tetap bisa berpergian, tidak bertumpu banyak pada transportasi udara, dan lingkup pariwisata pun bisa tetap hidup.

Untuk dunia penerbangan sendiri, ia mengutip dari data Kementerian Perhubungan bahwa 54 persen penggunaan pesawat udara adalah untuk tujuan komersil, 42 persen tujuan dinas, 12 persen tujuan bisnis, 32 persen untuk kepentingan keluarga dan 10 persen untuk wisata; sehingga mayoritas masyarakat tidak menggunakan kocek mereka sendiri untuk naik pesawat.

Demi mendorong terbentuknya maskapai penerbangan yang ‘sehat’ maka sedianya memang menggunakan tarif normal saja.

Insentif

Menanggapi hal ini Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan kepada VOA mengatakan, ketimbang mengundang maskapai asing untuk dapat beroperasi di tanah air, ia menyarankan pemerintah – sebagai regulator – dapat membantu maskapai penerbangan domestik dengan memberikan insentif dan keringanan; antara lain keringanan biaya pajak, biaya kebandaraan dan lain-lain. Insentif dan keringanan ini dapat menciptakan harga yang kompetitif kepada masyarakat dan tidak membuat maskapai merugi karena dunia penerbangan memang memiliki biaya operasional yang mahal.

“Harapannya lebih baik bagaimana mendukung penerbangan di domestik, maskapai domestik lah, membantu dengan insentif atau dengan keringanan supaya mungkin bisa bertahan. Jujur saja, bahwa sekarang ini memang maskapai harus berusaha keras untuk survive supaya bisa tetap terbang. Pertama, memang untuk menjamin transportasi udara nasional, dan sekaligus bertahan karena sebelumnya semua maskapai di Indonesia juga rugi kan? Waktu perang harga itu semuanya rugi. Nah sekarang sudah gak sanggup lagi rugi karena itu akan menggerus modal, harus bertahan hidup,” jelas Rosan.

Untuk Garuda Indonesia sendiri, ia mengatakan bahwa dari dulu hingga sekarang harga tiket pesawatnya hampir tidak ada kenaikan. Diakuinya bahwa Gardua Indonesia memang menggunakan tarif batas atas dan harganya juga cukup kompetitif untuk jenis maskapai premium.?***

Bagikan: