Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sedikit awan, 20.6 ° C

Persyaratan Omzet Program UKM Juara Turun Jadi Rp 100 Juta

Ai Rika Rachmawati
PENGUNJUNG memilih kerajinan hasil perajin UKM Jabar, yang dipamerkan pada Pameran Peningkatan Produksi Dalam negeri (P3DN) Indag Jabar,  di Area Halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa, 19 Maret 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR
PENGUNJUNG memilih kerajinan hasil perajin UKM Jabar, yang dipamerkan pada Pameran Peningkatan Produksi Dalam negeri (P3DN) Indag Jabar, di Area Halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa, 19 Maret 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR

BANDUNG, (PR).- Menggenjot target jumlah peserta, program Usaha Kecil Menengah (UKM) Naik Kelas mempermudah persyaratan. Jika sebelumnya calon peserta harus memiliki omzet minimal Rp 300 juta per tahun, kini diturunkan menjadi Rp 100 juta.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK), Kusmana Hartadji, mengatakan, berdasarkan data 2013 jumlah pelaku usaha kecil yang beromzet Rp 300 juta ke atas sebetulnya berjumlah 150.000. Namun, menurut dia, minat mereka untuk mendapatkan pendampingan tidak seantusias pelaku usaha mikro yang omzetnya di bawah Rp 300 juta.

"Target kami untuk program ini sebetulnya menyasar pelaku usaha kecil yang memiliki omzet di atas Rp 300 juta per tahun," ujarnya, pada Bimbingan Teknis bagi Pendamping UKM Naik Kelas di Fox Harris Lite Hotel Metro Indah, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Selasa, 11 Juni 2019.

Namun, karena jumlah pendaftar dari pelaku usaha skala kecil dinilai kurang bagus, Dinas KUK Jabar menurunkan persyaratan minimal omzet menjadi Rp 200 juta per tahun. Kemudian, persyaratannya kembali diturunkan menjadi Rp 100 juta per tahun.

"Setelah menjadi Rp 100 juta per tahun responnya cukup baik. Pada batch I ini tercapai 1.247 peserta dari target 2.500 UKM sepanjang 2019. Paruh kedua tahun ini akan kembali dibuka batch II," ujarnya.

Sebagian besar peserta yang mendaftar program teersebut adalah UKM yang bergerak di bidang usaha makanan dan minuman. Sementara posisi kedua terbanyak ditempati UKM fesyen.

Melalui program tersebut, menurut Kusmana, peserta akan dibimbing dan didampingi untuk bisa naik kelas. Indikator naik kelas yang ia maksud adalah mencapai kenaikan aset dan omzet usaha.

"Peserta program tersebut akan mendapatkan pendampingan selama enam bulan. Mereka juga akan mendapatkan fasilitas pelatihan, temu bisnis, benchmarking, dan promosi, baik di dalam maupun luar negeri," katanya.

Ia mengaku berharap, melalui program tersebut, UKM peserta bisa menemukan solusi dari beragam persoalan yang selama ini mengganjal mereka untuk naik kelas. Menurut dia, berdasarkan identifikasi di lapangan, banyak faktor yang kerap memghambat UKM untuk bisa meningkatkan kapasitas usahanya.

"Banyak, ya, mulai dari permodalan, pemasaran. Ada juga teknologi, manajemen usaha, hingga digitalisasi. Melalui program ini mereka akan didampingi untuk mencari solusi dari persoalan tersebut," ujarnya.

Untuk pendamping, Dinas KUK merekrut 200 orang praktisi. Kemarin mereka mendapatkan bimbingan teknis sebelum reami diterjunkan sebagai pendamping dalam program UKM Juara.

Selain menjadi pendamping, menurut Kusmana, untuk batch II, mereka juga dituntut untuk bisa merekrut UKM menjadi peserta program. Ia menargetkan, batch II akan diikuti lebih dari 1.250 UKM Jabar.***

Bagikan: