Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Cerah berawan, 26.4 ° C

Lebaran, Aktivitas Ekonomi Meningkat

Yulistyne Kasumaningrum
PENGUNJUNG berbelanja pada salah satu gerai Pasar Baru Trade Center di Jalan Otto Iskandardinata, Kota Bandung, Minggu (30/12/2018). Seusai serah terima dari pengelola lama, PD Pasar menargetkan penyegaran bangunan Pasar Baru tersebut.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
PENGUNJUNG berbelanja pada salah satu gerai Pasar Baru Trade Center di Jalan Otto Iskandardinata, Kota Bandung, Minggu (30/12/2018). Seusai serah terima dari pengelola lama, PD Pasar menargetkan penyegaran bangunan Pasar Baru tersebut.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BANDUNG, (PR).- Momen Idulfitri 1440 H mendorong peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah di Jawa Barat. Pencairan tunjangan hari raya (THR) di kalangan pegawai atau gaji ke-13 untuk ASN diyakini berperan besar menjadi motor penggerak roda ekonomi, terutama dari sisi konsumsi.

Berdasarkan data dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Barat mencatat permintaan uang selama Ramadhan 2019 di wilayah Jabodetabek mencapai Rp 51,5 triliun. Sedangkan khusus untuk wilayah Jabar (kecuali Bogor, Depok, dan Bekasi) mencapai Rp 24,39 triliun, yang terdiri dari KPw BI Jabar Rp 13,74 triliun, KPw Cirebon Rp 7,25 triliun, dan KPw Tasikmalaya Rp 3,41 triliun.

Adapun realisasi permintaan uang oleh masyarakat selama Ramadhan-Lebaran mencapai Rp 18,76 triliun atau setara dengan 76,89 persen dari jumlah uang yang telah dipersiapkan. Jika dibedah lebih dalam berdasarkan wilayah, realisasi permintaan uang di KPw Jabar mencapai 94 persen, KPw Tasikmalaya 57,77 persen, dan KPw Cirebon Rp 54,07 persen.

“Tahun ini kami menerapkan strategi front loading atau membanjiri di minggu-minggu awal agar lebih menyebar ke masyarakat. Dengan kerjasama yang baik dengan perbankan strategi ini bisa berhasil,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jabar Doni P. Joewono yang didampingi Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Pribadi Santoso dan Kepala Grup Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah, dan SLA Sukarelawati Permana, di Bandung, Senin, 10 Juni 2019.

Dengan meningkatnya kemampuan rumah tangga dari ASN dan pegawai karena pencairan THR atau gaji ke-13, berdampak positif pada peningkatan konsumsi rumah tangga. Berdasarkan data dari tiga tahun terakhir, periode Ramadhan dan Idulfitri mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga sekitar 0,3 persen (yoy) dari triwulan sebelumnya. Data BPS menunjukkan jumlah PNS Pemerintah Provinsi, kabupaten/kota, dan PNS kementrian/non kementrian di Jabar mencapai 428.741 orang pada 2016 yang merupakan salah satu daerah dengan jumlah ASN terbanyak.

Dengan kemungkinan peningkatan konsumsi rumah tangga sebesar 0,3 persen (yoy) tersebut maka pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan II-2019 diperkirakan akan pada rentang 5,1-5,5 persen atau naik dari triwulan I-2019 yang berada diangka 4,96 persen.

“Berbekal perkembangan yang ada, selain konsumsi rumah tangga yang luar biasa  juga didorong konsumsi pemerintah yang diperkirakan meningkat, kami optimistis pertumbuhan ekonomi Jabar triwulan II-2019 lebih baik dibandingkan triwulan I-2019, dikisaran 5,4-5,8 persen dengan bias keatas,” kata Doni.

Perkiraan meningkatnya konsumsi sejalan dengan meningkatnya Indeks Ekspektasi Konsumen hasil Survei KOnsumen (SK) BI pada triwulan II-2019 sebesar 148,8 sementara pada triwulan I-2019 tercatat 145,9. Selain itu, Indeks Penjualan Riil hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) BI juga menunjukkan peningkatan menjadi 251,3 pada triwulan II-2019 dari sebelumnya 241,9 pada triwulan I-2019. Peningkatan tersebut didorong meningkatnya permintaan pada kelompok makanan, minuman, dan sandang.

Hanya saja, Doni mengatakan, disisi lain dengan meningkatnya kemampuan rumah tangga tentunya berdampak pada inflasi pada periode tersebut yang cenderung meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar menyebutkan inflasi di wilayah ini pada Mei 2019 meningkat menjadi 0,85 persen (mtm). Peningkatan tersebut terutama didorong kenaikan harga dari kelompok bahan makanan dan tarif transportasi, khususnya angkutan antar kota. Inflasi Jabar pada Mei 2019 melampaui inflasi nasional yang ada diangka 0,68 persen.

Angka tersebut, diakui Doni, diatas proyeksi BI yang memproyeksikan inflasi Jabar pada Mei 2019 dikisaran 0,5-0,6persen. Apalagi, kenaikan tarif angkutan antar kota cukup mengejutkan manakala justru harga bahan makanan bisa terkendali dengan berbagai upaya dan kerja keras yang dilakukan pemerintah bersama semua pihak terkait.

“Ini diatas proyeksi, mestinya pemerintah provinsi bisa mengendalikan (tarif angkutan antar kota). Kita harapkan (inflasi) kedepan akan turun, karena melihat survei pada minggu pertama Juni (harga) kecenderungannya turun,” ujarnya.***

Bagikan: