Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 29.2 ° C

Tarif Angkutan Antarkota Picu Inflasi di Jawa Barat

Yulistyne Kasumaningrum
SEJUMLAH kendaraan umum berhenti di badan jalan yang sering dijadikan terminal bayangan saat menunggu penumpang di Jalan Lingkar Cileunyi, Cileunyi, Kabupaten Bandung. Selasa, 14 Mei 2019. Menjelang arus mudik lebaran 2019, Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung segera melakukan penyisiran dan penertiban keberadaan terminal bayangan untuk menghindari gangguan samping lalu lintas.*/ADE MAMAD/PR
SEJUMLAH kendaraan umum berhenti di badan jalan yang sering dijadikan terminal bayangan saat menunggu penumpang di Jalan Lingkar Cileunyi, Cileunyi, Kabupaten Bandung. Selasa, 14 Mei 2019. Menjelang arus mudik lebaran 2019, Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung segera melakukan penyisiran dan penertiban keberadaan terminal bayangan untuk menghindari gangguan samping lalu lintas.*/ADE MAMAD/PR

BANDUNG, (PR).- Didorong kenaikan tarif transportasi khususnya angkutan antar kota, laju inflasi di Jawa Barat pada Mei 2019 kembali menghangat. Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar mencatat wilayah ini mengalami inflasi 0,85 persen atau kembali melampaui inflasi nasional yang tercatat 0,68 persen.

Kepala BPS Jabar Dody Herlando mengatakan dari tujuh kelompok pengeluaran, seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kelompok bahan makanan yang memberikan andil inflasi 0,37 persen, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,25 persen), serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,18 persen).

Dari data yang dikumpulkan, Dody menggarisbawahi kenaikan tarif transportasi selama Mei 2019, khususnya transportasi antar kota. Alasannya, kenaikan tarif transportasi tersebut menjadi pemicu inflasi di wilayah ini.

“Ini belum memasukkan lebaran. Tetapi operator tampaknya sudah menaikkan tarifnya. Berkaca dari hal ini, maka perlu dipikirkan cara dalam hal pengendalian transportasi. Misalnya, apakah kuota mudik gratisnya yang ditambah,” katanya di Bandung, Senin, 10 Juni 2019.

Dody menuturkan inflasi pada Idulfitri dan lebaran selalu menjadi perhatian. Ini karena, pada periode tersebut kerap terjadi turbulensi sehingga langkah pengendalian harus secara maksimal dilakukan. “Dengan inflasi Mei 0,85 persen maka secara kumulatif inflasi Januari-Mei tercatat 1,66 persen,” ujarnya.

Perkembangan tersebut, menurut Dody, harus diwaspadai karena semakin mendekati inflasi 2017 dan 2018, serta semakin jauh meninggalkan inflasi pada 2015 dan 2016. Selain itu, dorongan inflasi masih akan berpeluang terjadi pada Juni-Juli.

“Inflasi Mei belum memasukkan momen Lebaran yang jatuh di awal Juni. Begitupun pada Juli, akan dihadapkan pada momen masuk sekolah serta rekreasi selama libur panjang anak sekolah. Perlu hati-hati,” ucapnya.***

Bagikan: