Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 20.9 ° C

Harga Gabah Anjlok Petani Bingung

Tim Pikiran Rakyat
FOTO ilustrasi petani menjemur gabah.*/DOK. PR
FOTO ilustrasi petani menjemur gabah.*/DOK. PR

PANDEGLANG, (PR).- Sejumlah petani di Kabupaten Pandeglang mengeluhkan rendahnya harga gabah kering yang saat ini hanya berkisar antara Rp 3.500 hingga Rp 3.800 per kilogram dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 4.000-4.700 per kilogram.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, anjloknya harga gabah terjadi di beberapa Kecamatan seperti di Kecamatan Sobang, Panimbang, Cigeulis, dan Patia.

Seorang petani di Desa Teluk Lada, Zaenal Abidin mengatakan, dirinya di Kecamatan Sobang kesulitan menjual gabah. Padahal, harga gabah kering dari petani sudah sangat murah.

"Iya, harga gabah anjlok di kisaran 3.800 per kilogram. Itupun petani kesulitan menjual, bisa menjual, asal tidak cash bisa menunggu paling singkat satu Minggu baru bayar, alasannya tengkulak tidak memiliki uang. Tengkulak akan membayar setelah padi itu terjual dalam bentuk beras," kata Zaenal kepada wartawan Kabar Banten, Ade Taufik, Minggu 26 Mei 2019.

Menurut Zaenal, anjloknya harga gabah pasca panen raya pada bulan Maret 2019 lalu. Hal ini, membuat para petani di Pandeglang mengalami kerugian yang cukup besar.

"Jelas rugi, harga gabah di bawah 4.000 perkilogram saja sudah rugi, karena tidak seimbang dengan ongkos produksi yang tiap tahun mengalami kenaikan," katanya.

Dia juga meminta agar Pemerintah Daerah turun tangan mencarikan solusi bagi para petani. 

"Jangan pas lagi panen raya bagus saja petani dibangga-banggain pejabat daerah pada selfie, giliran kena wereng atau sekarang harga gabah anjlok pemerintah berpangku tangan," cetusnya.

Sementara Ketua KTNA Pandeglang, Anton Khaerul Syamsi mendesak Perum Bulog dan BUMD untuk mengoptimalkan penyerapan gabah dari para petani, agar para petani di Kabupaten Pandeglang tidak merugi setiap tahunnya.

"Nasib petani selalu yang dirugikan pada saat panen harga gabah turun , Bulog belum bisa menyerap gabah dari Petani . Di sini peran Bulog harus bisa jemput bola dan Pemda melalui BUMD nya tidak boleh berpangku tangan diam saja," katanya.***

Bagikan: