Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Umumnya berawan, 28 ° C

Efek Perang Dagang, RI Harus Cari Pasar Nontradisional

Satrio Widianto
null
null

JAKARTA, (PR).- Langkah Kementerian Perdagangan meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi dengan Argentina dan organisasi lima negara Amerika Latin (Mercosur) dipandang tepat. Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal menyatakan, Argentina merupakan hub atau pintu penting di Amerika Selatan setelah Brazil. Penjajakan counter trade dengan pola barter, diyakini mendongkrak neraca perdagangan.

“Berdasarkan kajian yang pernah LPEM UI lakukan, pemetaan nontradisional partner untuk wilayah Amerika Latin selain Brazil itu ada Chili, Peru, dan Argentina. Jadi saya rasa itu sudah ya,” ujar Fithra dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 15 Mei 2019.

Menurut Fithra, perang dagang yang masih terjadi membuat Indonesia harus segera mencari negara tujuan ekspor nontradisional. Seperti diketahui, usai melangsungkan kunjungan ke Eropa pada 8-11 Mei lalu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melanjutkan kunjungan kerja ke dua negara Amerika Latin, yakni Cile dan Argentina. 

Terkait kunjungan tersebut Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dengan negara-negara Amerika Selatan. Hal ini mengingat kebutuhan yang semakin mendesak untuk mendiversifikasi pasar ekspor di tengah prediksi bahwa perekonomian dunia maupun perdagangan internasional akan terus mengalami pelemahan tahun ini.

Kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Argentina akan memiliki nilai geostrategis yang penting. Indonesia dapat memanfaatkan Argentina sebagai regional hub memasuki pasar sekitar lainnya di kawasan Amerika Latin. Demikian pula Argentina dapat memanfaatkan Indonesia untuk memasuki pasar ASEAN, pasar mitra FTA ASEAN, maupun pasar RCEP yang saat ini masih dirundingkan.

Barter karet

Pemerintah, lanjutnya, tengah menjajaki pola counter trade. Pola ini sebagai langkah tepat guna memangkas defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Argentina. 

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, pada 2018 lalu total perdagangan kedua negara mencapai USD 1,67 miliar. Dari total perdagangan tersebut, Indonesia membukukan defisit perdagangan hingga USD 1,2 miliar. Angka defisit ini melonjak dibandingkan defisit pada 2017 yang sebesar USD 891,22 juta. 

Potensi untuk melakukan barter gaya baru ini pun ada. Sejalan dengan perlambatan ekonomi dunia, terdapat potensi over supply produk di Argentina. Hal yang sama juga dialami Indonesia, di mana beberapa komoditas mengalami penurunan ekspor.

Barang yang bisa dibarter dengan mereka adalah karet, CPO, automotive dan spare parts, juga spare parts pesawat CN 235. Rencana Kemendag melakukan barter produk dengan Argentina pun turut diapresiasi. Menurut Fithra, keputusan melakukan barter dengan mengerahkan karet dan CPO adalah strategi tepat. 

Fithra bahkan menyebutkan, impor barang modal dari Argentina dapat mengantarkan Indonesia sebaga jaringan produksi global atau global value chain di Amerika Latin dan kemudian tersambung ke pasar Amerika.***

Bagikan: