Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian berawan, 18.5 ° C

Utang Pemerintah ke Pupuk Kujang Mencapai Rp1,8 Triliun untuk Pupuk Bersubsidi

Dodo Rihanto
SEJUMLAH pekerja tengah memindahkan pupuk urea bersubsidi ke gudang lini III di wilayah Karawang. Saat ini, stok semua jenis pupuk dipastikan aman untuk memenuhi kebutuhan hingga September 2019.*/DODO RIHANTO/PR
SEJUMLAH pekerja tengah memindahkan pupuk urea bersubsidi ke gudang lini III di wilayah Karawang. Saat ini, stok semua jenis pupuk dipastikan aman untuk memenuhi kebutuhan hingga September 2019.*/DODO RIHANTO/PR

KARAWANG, (PR).- Jumlah utang pemerintah kepada PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC) telah mencapai Rp1,8 triliun. Utang itu berasal dari penyaluran pupuk bersubsidi selama satu tahun berjalan.

Kendati demikian, utang yang lumayan besar itu dinilai belum mengganggu aktivitas produksi PKC. Sebab, salah satu anak perusahaan Pupuk Indonesia itu telah menyiasatinya dengan mencari dana pinjaman kepada pihak perbankan.

Hal itu disampaikan Direktur Utama PKC, Budi Eka Irianto, saat menggelar acara buka puasa bersama unsur media massa di Karawang, akhir pekan lalu.  "Alhamdulillah, pemerintah secara bertahap terus melakukan pembayaran piutang kami. Dengan demikian, kondisi keuangan Pupuk Kujang masih sehat," katanya.

Menurut Budi, keuangan PKC bakal kacau jika pemerintah menyatakan tidak sanggup membayar utangnya. Padahal, PKC sendiri memiliki utang kepada perbankan dengan nilai yang hampir sama guna menutupi piutang pupuk bersubsidi tersebut.

Dikatakannya, utang kepada perbankan terpaksa dilakukan. Kondisi itu seiring dengan meningkatnya harga bahan baku pupuk urea, yakni gas bumi.

Karena berkaitan dengan bahan baku pupuk urea itu, PKC berencana memindahkan pabrik Kujang ke wilayah di Pulau Sulawesi. “Hal ini untuk mendekatkan pabrik ke sumber gas bumi. Sementara pabrik di Cikampek diarahkan untuk memproduksi pupuk NPK," ucap Kepala Biro Humas PKC, Ade Cahya.

SEJUMLAH pekerja tengah memindahkan pupuk urea bersubsidi ke gudang lini III di wilayah Karawang. Saat ini, stok semua jenis pupuk dipastikan aman untuk memenuhi kebutuhan hingga September 2019.*/DODO RIHANTO/PR

Stok pupuk urea dan NPK aman hingga September 2019

Ade Cahya juga menyatakan, stok pupuk urea dipastikan aman hingga usai Lebaran. "Sesuai peraturan Kementerian Pertanian, produsen pupuk diwajibkan menyimpan stok untuk kebutuhan dua minggu ke depan. Tetapi dalam pelaksanaannya, PKC  mampu menyiapkan stok untuk kebutuhan hingga September 2019," ujar Ade.

Dijelaskannya, saat ini stok pupuk urea untuk area Jawa Barat dan Banten mencapai 69.664 ton atau 260% dari ketentuan sebesar 26.226 ton. Sementara, stok NPK mencapai 45.447 ton atau 10 kali lipat dari ketentuan sebesar 3.633 ton. 

"Stok pupuk organik mencapai 8.173 ton atau 161% dari ketentuan sebesar 5.071 ton. Pokoknya, semua stok pupuk aman untuk menyongsong musim tanam gadu mendatang," ujar Ade Cahya.***

Bagikan: