Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Lahan Pengeringan Jagung Minim, Kabupaten Bandung Bisa Jadi Sentra Perdagangan Jagung

Deni Yudiawan
Jagung/ANTARA
Jagung/ANTARA

SOREANG, (PR).- Wilayah Kabupaten Bandung sangat berpotensi menjadi sentra perdagangan jagung di Jawa Barat. Jika pengelolaan dilakukan secara profesional, tak menutup kemungkinan pendirian pabrik pembuat pakan ternak juga dapat diproduksi dan banyak pihak yang akan diuntungkan.

Salah satu pabrik pengolahan jagung (silo) yang terbesar di Kabupaten Bandung berada di Desa Ciherang, Kecamatan Nagreg. Jaraknya hanya beberapa ratus meter dari perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Garut.

Selama ini, silo itu menampung produksi jagung dari petani di sejumlah daerah, tak hanya Kabupaten Bandung tapi juga dari Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang.

Jagung/ANTARA

Menurut Endang Saeful Rohman (56), pengelola silo Rido Manah di Desa Ciherang, Kecamatan Nagreg, potensi penjualan jagung itu sangatlah tinggi.

Selama ini, kata dia, jagung menjadi primadona para petani karena bernilai ekonomi tinggi. Selain mudah dalam penanamannya, juga dapat berproduksi hampir sepanjang tahun.

Endang adalah pelaku perdagangan jagung sejak lama. Ia juga aktif dan menjadi pengelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rido Manah di Nagreg. Namun, kata dia, satu masalah yang mengganjal saat ini adalah kurangnya lahan untuk penjemuran jagung dari petani.

DEDI (55), petani jagung di Desa Bojongmengger, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis tengah menjemur jagung yang baru dipanen di sisi jalan alternatif Ciamis - Banjar, Kamis , 7 Maret 2019. Saat musim panen harga jagung pipilan kering di tingkat petani hanya Rp 4.500 per kilogram.*/NURHANDOKO/PR

Seperti diketahui, jagung yang dibeli dari petani memiliki tingkat kekeringan yang berbeda. Diperlukan langkah pengeringan agar pipilan jagung yang dijual oleh petani dapat bernilai tinggi.

”Beberapa bulan lalu, banyak sekali jagung yang kemudian turun harganya karena tak terjemur. Kita memiliki kendala keterbatasan lahan dalam pengeringan jagung. Tak semua jagung dapat dijemur di sini,” kata Endang saat ditemui di Nagreg, Rabu 8 Mei 2019.

Pendekatan teknologi dengan membuat mesin pengering sangat bisa dilakukan. Namun, mesin pengering jagung dianggap tak efisien karena memerlukan banyak bahan bakar.

Selain itu, pipilan yang dihasilkan mesin pengering memiliki tingkat kekeringan yang terlalu tinggi sehingga merugikan petani.

Punya potensi besar

Mochamad Achyarsyah (42), dosen Politeknik Manufaktur Negeri Bandung, mencoba mencari solusi untuk para petani dan pengelola pabrik jagung tersebut. Selama beberapa bulan terakhir, ia mendampingi Gapoktan Rido Manah dengan harapan dapat meningkatkan produksi melalui pendekatan manajemen yang baik serta modernisasi alat pengolahan.

Ia mengakui bahwa lahan pengeringan menjadi kendala utama pengelola pabrik jagung. ”Matahari menjadi cara yang paling efektif dan efisien dalam mengeringkan jagung dibandingkan mesin,” katanya.

Menurut dia, wilayah Nagreg sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai sentra jagung di Jawa Barat. Pendekatan teknologi saat ini tengah dirancang agar proses pengolahan dapat dilakukan dengan cepat dan dapat menjaga mutu jagung.

”Saat semua pengolahan jagung dapat terpusat di sini, maka tak menutup kemungkinan kita bisa mendirikan pabrik pakan ternak sendiri dan dapat memasok kebutuhan para peternak di wilayah Priangan timur,” kata Achyarsyah.

Jika semua rancangan itu dapat diterapkan, kata dia, maka banyak pihak yang akan diuntungkan.  Selain petani jagung yang akan meningkat kesejahteraannya juga dapat menyerap banyak tenaga kerja lokal dan menurunkan tingkat pengangguran. Pemerintah daerah, kata dia, juga akan diuntungkan dengan pemasukan PAD untuk pembangunan.***

Bagikan: