Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sedikit awan, 25.1 ° C

Ramadan, Pasokan Kebutuhan Pangan Terkendali

Novianti Nurulliah
FOTO ilustrasi kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) di pasar tradisional.*/DOK. PR
FOTO ilustrasi kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) di pasar tradisional.*/DOK. PR

BANDUNG,(PR).- Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan pasokan kebutuhan pangan menjelang dan selama bulan puasa 2019 terkendali. Kendati begitu, mereka mengakui ada beberapa kebutuhan pokok yang defisit alias jumlah ketersediaan barang kurang dari jumlah permintaan. Pemerintah mendorong kordinasi antardaerah di Jabar untuk saling menutupi kebutuhan hingga akan menyuplai dari berbagai daerah di Indonesia.

Kepala Dinas Ketahan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jabar Koesmayadi Tatang Padmadinata mengatakan, saat ini ketersediaan pangan yang aman bahkan surplus di Jabar yaitu cabe merah, daging sapi, dan daging ayam. Sementara bahan pangan yang defisit atau kekurangan telur ayam negeri, bawang merah, dan cabe rawit. Namun yang paling menonjol yaitu kebutuhan akan telur ayam negeri.

"Jelang bulan puasa dan selama Ramadan ini kebutuhan telur melonjak untuk membuat kue-kue yang dilakukan oleh industri besar maupun skala rumah tangga. Bukan hanya untuk keperluan konsumsi sehari-hari lagi," kata Tatang dalam Jabar Punya Informasi (Japri) di Lobby Museum Gedung Sate, Jalan Cimandiri, Kota Bandung, Kamis 25 April 2019.

Menurut catatan DKPP jumlah ketersediaan telur untuk Ramdan dan idulfitri sebanyak 20.100 ton. Sementara, kebutuhannya 53.626 ton, kurang 33.526 ton. Untuk memenuhi defisit tersebut pihaknya bekerja sama dengan beberapa wilayah untuk mendatangkan telur ke Jabar.

"Karena keseharian juga defisit telur itu didatangkan dari luar, dari Jawa tengah (Kendal), Jawa timur (Blitar) juga dari Medan. Itu keseharian juga gitu karena kita kekurangan," ujar Koesmayadi.

Koesmayadi mengaku telah mengajak para peternak di Ciamis untuk mengembangkan petelur. Selain untuk menutup kebutuhan di Jabar,  telur yang dikonsumsi masyarakat pun akan lebih segar.

"(Peternak di Ciamis) Jangan sungkan mengembangkan ayam petelur. Petelur kita cukup bermutu karena fresh. Coba bayangkan saja perjalanan Medan ke Bandung itu berapa hari?" kata dia.

Selain telur yang defisit, ketersediaan cabai rawit alias cengek menjadi sorotan. Kekurangannya berada di angka 5.375 ton. Menurut Koesmayadi, salah satu penyebabnya lantaran kian menjamurnya usaha kuliner, seperti ayam geprek dan seblak yang memang membutuhkan banyak cabai rawit.

"Selain itu untuk cabe rawit memang yang kemarin sempat kena hama. Banyak yang gagal panennya," ucapnya.

Berbeda dengan cabai rawit, dia memastikan, untuk ketersediaan cabai merah diprediksi akan aman selama Ramadan dan Idulfitri. Terlebih pada beberapa bulan terakhir terjadi ledakan produksi sehingga terjadi surplus.

Beras dan daging sapi cukup

Beras pun, kata dia, dijamin aman ketersediaannya terlebih musim panen sedang berlangsung. Namun memang saat ini beras premium jadi incaran, berapapun harganya dibeli masyarakat sehingga jadi pemicu inflasi. "Namun untuk beras ini insyallah terjaga," kata da.

Untuk daging sapi, Koesmayadi mengatakan, masyarakat jangan panik karena ketersediaannya juga mencukupi. Saat ini terdapat 80.500 ekor yang berada di feedloter yang 5.000 di antaranya merupakan indukan yang tidak boleh disembelih.

Begitu juga daging ayam, lanjut dia, di luar momen Ramadan dan Idulfitri pun sudah melimpah. Selain itu, harganya pun tetap terpantau. Sebab, Jawa Barat merupakan pemasok utama ayam broiler nasional.

Dia meminta masyarakat agar tidak panik dalam membeli sejumlah bahan pokok tersebut. Pihaknya mengupayakan agar ketersediaannya mencukupi.***

Bagikan: