Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Ini Dia yang Mendorong Tumbuhnya Tren Industri Halal di Dunia

Ari Nursanti
DISKUSI Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) bersama International Islamic Liquidity Management, Kuala Lumpur Malaysia.*/DOK. KNKS
DISKUSI Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) bersama International Islamic Liquidity Management, Kuala Lumpur Malaysia.*/DOK. KNKS

MENGAPA saat ini industri halal tumbuh dan berkembang di dunia? Semua fenomena global itu tidak terjadi secara serta merta. Data dari Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) menyebutkan total Global Islamic Finance Market sebesar US$ 2,438 trilyun pada tahun 2017 diprediksi akan terus meningkat menjadi US$ 3,809 trilyun (naik 56%) pada tahun 2023. Sementara di sektor Global Islamic Commercial Banking Market, tercatat angka US$ 1,721 trilyun d itahun 2017,dan diperkirakan akan mencapai angka US$ 2,441 trilyun di tahun 2023 (naik 41,8%).

Global Islamic Economy Report Tahun 2016/2017 menunjukkan nilai belanja makanan dan gaya hidup halal di dunia mencapai angka US$ 1.9 triliun pada tahun 2015 dan diprediksiakan naik menjadi US$ 3 triliun pada tahun 2021. Melihat potensi yang besar ini, negara muslim maupun non-muslim berlomba-lomba menggarap bisnis berbasis syariah.

Peningkatan ini seiring dengan semakin meningkatnya populasi dan sebaran penduduk muslim di dunia yang berjumlah sekitar 1,8 milyar jiwa. Dengan meningkatnya populasi dan sebaran muslim ini menyebabkan terjadinya pula peningkatan kebutuhan terhadap produk-produk atau jasa berlabel halal. Tentu saja perkembangan ini juga dipicu dengan meningkatnya motivasi dan keyakinan masyarakat terhadap produk berlabel halal. Selain itu, masyarakat juga memiliki kepercayaan kualitas produk halal yang memang dikenal lebih baik dari aspek etika, kesehatan, keamanan, dan keramahan terhadap lingkungan (eco-friendly).

Di sisi lain, data dari KNKS juga menyebutkan kebutuhan masyarakat muslim terus bertambah seiring dengan bertambahnya kelas menengah muslim yang otomatis memiliki daya beli yang lebih tinggi. Tingginya daya beli ini karena porsi terbesar dari populasi muslim adalah usia produktif. Mereka memiliki mobilitas tinggi sehingga kebutuhan akan produk halal diperlukan hadir di semua wilayah.

Keberadaan muslim usia produktif tersebut memunculkan karakteristik gaya hidup modern yang lebih maju, namun mereka masih tetap mengemban keyakinannya untuk menggunakan produk berlabel halal dalam memenuhi kebutuhan mereka. Hal tersebut juga menjadi pemicu mulai berkembangnya produk-produk halal.

Populasi muslim yang besar ini juga mendorong sejumlah negara, bahkan yang penduduk muslimnya minoritas, ikut berebut “kue” dari pasar muslim yang besar ini.

Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Budha bahkan menjadi eksportir pangan bersertifikat halal terbesar di dunia. Tiongkok juga menjadi penyedia bahan sandang halal ke Timur Tengah. Bahkan Jepang dan Korea Selatan juga tengah aktif mengembangkan industri halal ini meski jumlah muslim di negara mereka minoritas. The Manila Times pernah melaporkan bahwa Philipina juga mengembangkan industri halal.

Indonesia merupakan negara yang dinilai memiliki peluang paling besar dalam mengembangkan produk-produk halal yang mendunia. Apakah pontesi yang dimiliki Indonesia? Dan usaha apa saja yang dilakukan pemerintah melalui KNKS untuk menggemakan peluang-peluang usaha berbasis halal di Indonesia? Anda bisa mengetahuinya dalam Indonesia Islamic Economy Festival (IIEFEST) di Era Milenial yang akan digelar oleh KNKS pada Jumat 26 April 2019 di Trans Grand Ballroom, The Trans Luxury Hotel Bandung. Bagi yang ingin tahu lebih lanjut bisa mengunjungi instagram KNSK di @knks.id.***

Bagikan: