Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sebagian cerah, 29.5 ° C

Pemilu Kondusif Dorong Penguatan Nilai Tukar Rupiah

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI.*/  DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

JAKARTA, (PR).- Pemilu yang berlangsung kondusif dapat mendorong penguatan nilai tukar rupiah.‎ Hal itu juga dinilai dapat berdampak positif pada pasar obligasi.

"‎Pemilu yang berlangsung kondusif dengan hasil yang tidak mengejutkan pasar akan suportif bagi pasar obligasi," ujar Director & Chief Investment Officer Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Ezra Nazula, di Jakarta, Senin 22 April 2019.

Bila dilihat dari sejarahnya, dia mengatakan, rupiah sebenarnya cenderung melemah pada kuartal ke dua. Hal itu dipengaruhi oleh faktor musiman seperti repatriasi dividen dan meningkatnya impor jelang Lebaran. 

Meskipun demikian, menurut Ezra, defisit neraca berjalan dapat dijaga sehingga sentimen nilai tukar rupiah tidak terlalu buruk. Salah satu faktor yang dapat "membiayai" defisit pada neraca berjalan adalah arus dana masuk pada pasar finansial. "Hal itu diharapkan dapat mendorong perbaikan sentimen pada emerging market,"ujarnya.

Ezra mengatakan, ‎hilangnya ketidakpastian politik dapat mendorong dana masuk, baik dari investor domestik maupun global. Sejauh ini target obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun masih berada di kisaran 7.0 – 7.5%. Target ini masih bisa direvisi turun jika BI melakukan pemangkasan suku bunga.

Dia mengatakan, peluang pemangkasan suku bunga juga dapat mendorong arus dana masuk ke pasar finansial Indonesia. Hal itu pada akhirnya dapat membantu menurunkan defisit pada neraca berjalan. 

Menurut Ezra, pemangkasan suku bunga Bank Indonesia juga dapat menguntungkan obligasi bertenor pendek maupun panjang.‎ Obligasi tenor pendek yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga, akan bergerak lebih dulu dengan besaran penurunan imbal hasil yang dipengaruhi seberapa besar ekspektasi penurunan suku bunga acuan. Penurunan imbal hasil tenor pendek ini akan diikuti oleh penurunan imbal hasil obligasi tenor panjang. 

"Awalnya kurva imbal hasil akan membentuk pola bull steepening. Imbal hasil obligasi tenor pendek turun lebih cepat dibandingkan obligasi tenor panjang , untuk kemudian membentuk pola bull flattening, di mana imbal hasil obligasi tenor panjang turun lebih cepat dibandingkan obligasi tenor pendek sehingga membentuk kurva imbal hasil yang lebih mendatar," ujarnya.

Sementara itu, sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara mengatakan kenaikan suku bunga oleh The Fed sudah mencapai puncaknya. Artinya besar kemungkinan The Fed tidak akan menaikkan suku bunganya tahun ini.

"Ini merupakan sinyal positif bagi Indonesia. Suku bunga The Fed yang tidak egresif akan memicu‎ dana asing lebih besar masuk ke Indonesia," ujar dia.***

Bagikan: