Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Merespons Hasil Sementara Pilpres 2019, Rupiah Bisa di Bawah Rp 14.000 per Dolar

Yulistyne Kasumaningrum
NILAI tukar rupiah/ANTARA
NILAI tukar rupiah/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Tren penguatan rupiah diyakini masih akan terus berlanjut. Bahkan nilai tukar rupiah diprediksi akan mampu menembus angka di bawah Rp 14.000 atau paling tidak bertahan di level tersebut hingga semester II-2019.

Ekonom dari Universitas Padjadjaran Teguh Santoso mengatakan, penguatan rupiah sebetulnya telah terlihat sejak beberapa waktu terakhir atau sekitar awal Maret.

Hal itu didorong faktor ekonomi global yang ditandai adanya relaksasi kebijakan moneter yang dilakukan Amerika Serikat.

Kebijakan tersebut kemudian mendorong adanya aliran dana masuk ke Indonesia. Sejak Januari-awal April, terdapat dana sekira Rp 90 triliun yang masuk ke Indonesia.

“Kemudian setelah melalui proses pemilu dan hasil versi quick count membuat pelaku pasar merespons. Ternyata hasil tersebut sesuai ekspektasi pasar sehingga menanbah kepecayaan diri pelaku pasar untuk investasi,” katanya di Kota Bandung, Jumat 19 April 2019.

Sejam usai dirilisnya hasil Pemilu 2019 versi quick count, aliran modal yang masuk mencapai Rp 1,2 triliun.

Aliran investasi semakin deras

Sejumlah perusahaan manajemen investasi memperkirakan aliran dana asing ke pasar saham dan obligasi tahun ini diperkirakan akan mencapai Rp 84 triliun.

“Ini bukan angka yang kecil. Dengan tambahan likuiditas dolar tersebut, diprediksi rupiah akan menguat. Mungkin tidak sampai ke level Rp 13.000 per dolar AS tapi masih mungkin terjadi dibawah Rp 14.000,” kata Teguh Santoso.

Terkait kondisi tersebut, dia mengatakan, ketika hasil hitungan cepat Pemilu 2019 menunjukkan kemenangan untuk petahana, bagi pelaku pasar, hal tersebut merupakan peluang, khususnya terkait pengelolaan ekonomi.

Kembalinya petahana maka besar kemungkinan pengelolaan ekonomi Indonesia tidak akan jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Alasannya karena belum ada reformasi ekonomi yang secara masiv dilakukan oleh Jokowi.

“Ini tidak ada unsur politis, lebih kepada mengasumsikan jika dalam hitung cepat petahana kembali terpilih, wajar investor melihat jika (petahana) terpilih lagi, masih akan membutuhkan pendanaan yang besar. Makanya, SUN (Surat Utang Negara) menjadi instrumen yang cukup menarik selain saham,” ujarnya.

Akan tetapi, kata Teguh Santoso, di sisi lain perkembangan di lingkungan domestik tersebut masih akan dipengaruhi kondisi ekonomi global.

Proyeksi penurunan ekonomi global akan menjadi konsiderans, selain tentunya dampak perang dagang yang masih akan membayangi.

“Di satu sisi, sentimen positif ekonomi Indonesia menjadi faktor pendorong. Namun, kondisi eksternal menahan laju perubahan itu, tetapi tidak menjadi dominan,” ujarnya.

Teguh Santoso memperkirakan, dalam beberapa waktu ke depan, Bank Indonesia akan melakukan relaksasi moneter. Ditambah lagi, dari sisi indikator ekonomi makro Indonesia, kebijakan tersebut sangat memungkinkan untuk dilakukan.

Capaian pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus, menurunnya defisit transaksi berjalan, dan inflasi yang terkendali sudah menjadi modal bagi BI untuk melakukan relaksasi.***

Bagikan: