Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 22.2 ° C

Merintis Bisnis, Saat Kuliah atau Setelah Lulus?

Satira Yudatama
MERINTIS bisnis saat kuliah/ARIF HIDAYAH/PR
MERINTIS bisnis saat kuliah/ARIF HIDAYAH/PR

MEMBUKA usaha memang gampang-gampang susah. Namun, jika seseorang mau mencoba bisa jadi itu awal yang baik untuk meraih kesuksesan. Kuliah atau baru lulus tak harus menjadi ­halangan untuk ­mulai berbisnis. Justru saatnya ­mempraktikkan ilmu-ilmu yang didapat di bangku ­kuliah.

Teman bisa menjadi sasaran ­pertama mengenalkan produk, dilanjutkan dengan jejaring yang dirintis lewat media sosial.  

Semangat berbisnis dirasakan juga oleh Siti ”Titi” Roziati Dewi tak lama setelah lulus dari bangku kuliah. Perdagangan lewat kanal elektronik menjadi langkah awal Titi menjalankan aktivitas wirausahanya. Semula, perempuan kelahiran Bandung, 8 Februari 1995 itu bekerja sama dengan salah seorang temannya.

”Media sosial teman punya jumlah followers lumayan banyak, cocok sebagai media promosi. Teman saya membeli produk dagangan saya, kemudian menjual lagi ke konsumen ­dengan mengambil sedikit laba,” ucap Titi saat dijumpai di tempat berdagangnya, Jalan Sukamenak, Kecamatan Margahayu, Kabupa­ten Bandung, Kamis 7 Maret 2019.

Sejak awal, Titi langsung menjalankan usaha dengan serius, menyewa jasa pesohor (selebgram), dan memasang iklan di akun Instagram khusus kuliner untuk mempromosikan produk dagangannya, bakso aci atau cilok.

ILUSTRASI uang rupiah.*/DOK. PR

Upaya itu berbuah hasil, yakni dapat menjangkau cakupan pasar lebih luas dan meningkatkan jumlah pembeli.

Suatu saat  tiba-tiba ada pemesan yang berasal luar Bandung bersedia membayar ongkos kirim lebih besar daripada harga produk. Gambaran minat pemesan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Titi.

Titi yang merupakan alumnus Program Studi D-3 Manajemen Bisnis Universitas Widyatama, mulai berdagang bakso aci kuah dengan nama Cilok Bohay pada akhir 2017. Dia berdagang dengan menerapkan ilmu kewirausahaan dan pengalaman empiris dari kurikulum kuliah.

Setelah beroleh keuntungan dari berdagang melalui kanal elektronik, Titi memutuskan membuka kedai di Jalan Sukamenak, Margahayu, Kabupaten Bandung.

Titi tak perlu mengeluarkan modal untuk membayar sewa karena lahan yang menjadi lokasi kedai merupakan milik pamannya. Semenjak membuka kedai, dia tak lagi berjualan melalui kanal elektronik.

Stres/CANVA

Kendati mengalami dinamika sebagaimana pedagang lainnya, usaha Titi berlangsung relatif mulus, menyerap dua tenaga kerja, juga sempat membuka cabang di sekitar Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung.

Akan tetapi, operasional cabang cuma bertahan beberapa bulan. ”Saya menyewa tempat di sana, berbagi ruang dengan pedagangan makanan lain. Jumlah pembelinya memang selalu banyak, tetapi pemilik tempat terus menaikkan harga sewa dan membuat para pedagang hengkang,” ucap Titi.

Bermula dari hobi

Perihal ide berdagang bakso aci kuah, Titi mengatakan bahwa ide itu bermula dari kegemarannya akan jenis makanan tersebut.

Dia mencoba membuat bakso aci, kemudian meminta sejumlah saudaranya untuk mencicipi. ”Banyak yang bilang enak, menambah keberanian saya untuk mulai berdagang,” katanya.

Sebagai pembeda dengan produk serupa, Titi memasukkan ragam isian ke dalam bakso aci, di antaranya keju mozarella.

Uang/DOK. PR

Racikan bumbu penyedap pun menjadi andalan Titi untuk menggugah selera konsumen. Terlepas dari hal itu, dia menyadari bahwa usahanya belum bisa menyaingi para pelopor yang berjualan makanan serupa.

Kini, Titi mengembangkan usaha dengan berjualan produk minuman cepat saji, dan berkeinginan kembali membuka cabang penjualan bakso aci kuah.

”Ada yang tertarik membuka franchise (waralaba) Cilok Bohay, tetapi saya tak menyanggupi. Saya khawatir racikan bumbu bakso aci kuah buatan pengguna franchise berbeda, kemudian akan memengaruhi rasa,” tutur Titi.

Membantu orangtua

Keinginan untuk meringankan beban orangtua dalam hal pembiayaan kuliah menjadi motif mahasiswa Program Studi Seni Karawitan Institut Seni Budaya Indonesia Bandung Ardi Permana (27) berkecimpung sebagai perajin waditra trompet pencak. Ardi merintis usahanya pada 2015, saat hendak masuk kuliah.

Ardi bercerita, kegagalan menghampiri fase awal perjalanannya sebagai perajin trompet pencak. Dari 10 trompet buatannya, hanya 1 yang berfungsi dengan baik.

”Kegaga­lan tak sampai membuat saya putus asa, justru menambah dorongan semangat guna mengasah keterampilan membuat trompet, untuk belajar kepada sejumlah ahli (pembuat trompet pencak),” ucap Ardi yang lahir di Bandung, 23 Mei 1992 ini.

Tanpa alat memadai, Ardi membuat trompet dengan ­mengandalkan kesabaran dan ketelitian. Setiap trompet memi­liki standar bentuk serta ukuran diameter lubang yang baku.

Melenceng sedikit saja, trompet tak akan berbunyi secara utuh. Oleh karena itu, proses produksinya pun memerlukan waktu lumayan lama, yakni sekitar seminggu untuk satu trompet.

”Saya menjalankan usaha sendirian, dari urusan mencari bahan baku sampai penjualan. Sesekali, ayah ikut membantu, tetapi cuma pada tahap dasar,” ucap Ardi.

Teman sejawat, kakak , beserta adik angkatan siswa SMKN 10 Bandung menjadi sasaran konsumen produk buatan Ardi.

Meski penghargaan sebagian kalangan masyarakat umum akan waditra belum bagus, dia bersyu­kur usahanya dapat mendatang­kan penghasilan cukup, termasuk untuk memenuhi biaya kuliah. Selain meringankan beban orangtua, Ardi berharap usahanya bermanfaat dalam hal pelestarian seni budaya Sunda.

Ardi menghentikan sementara produksi trompet karena sedang fokus mempersiapkan kolokium. ”Libur sejak awal Maret 2019. Mungkin, kembali memproduksi trompet pada pertengahan Maret,” katanya.

Salah seorang mahasiswa Prodi Karawitan ISBI Bandung lainnya, A Rizal Maulana Yusuf berkuliah sembari manggung, juga berjualan pulsa HP dan token listrik. Penghasilan dari manggung  dan berjualan bisa ­menutupi sebagian kebutuhan ongkos dari rumahnya di Banjaran ke kampus (Jalan Buahbatu).

Rizal mulai berjualan pulsa dan token listrik sekitar enam bulan lalu. Pengalaman berjualan membangun kesadaran Rizal bahwa mencari uang merupakan hal sulit dan memerlukan kesabaran ekstra.

”Semoga jualannya laku, kemudian beroleh penghasilan lebih besar. Ingin memberi sebagian penghasilan kepada orangtua. Kalau meminta terus, malu,” ucap Rizal.

Aktivitas manggung serta berjualan, kata Rizal, tak mengganggu waktu kuliah. Bagi Rizal, kuliah tetap menjadi prioritas, juga bagian dari bentuk baktinya kepada orangtua.

”Sebenarnya, aktivitas perkuliahan lumayan padat. Saya perlu membagi waktu kuliah, berjualan, manggung, dan istirahat secara proporsional. Apalagi, saya lumayan sering ikut kegiatan ayah,” kata Rizal.***

Bagikan: